Rabu, 29 Desember 2010

Stephen Griffiths - Crossbow Cannibal


Di usia yang baru 40 tahun, Stephen Griffiths jelas terlihat masih tampan. Pekerjaannya bergengsi, peneliti di sebuah universitas. Griffiths kemungkinan memiliki gelar doktor bidang hukum pidana Universitas Bradford dengan spesialisasi pembunuhan. 

Namun Griffiths memiliki kehidupan yang lain. Di flat mungilnya tak jauh dari kawasan "lampu merah" Bradford, Inggris, Griffiths mengembangkan "alter ego" (semacam identitas lain). Di sebuah halaman di MySpace, Griffiths muncul dengan nama samaran Ven Pariah dan username Ven99.

Ven Pariah digambarkan sebagai "Seorang yang benci orang lain, yang membawa kebencian ke dalam surga." Dia menggunakan dua gambar utama, berusia 99 tahun dan berlokasi di Bradford. Tanggal akses terakhir adalah 23 April 2010.

Griffith mempublikasikan 160 gambar ke halaman itu, mayoritas tak bisa diakses lagi, termasuk soal pembunuhan teroris dan pembunuh. Ada puluhan video musik favoritnya, mulai dari Queen sampai Duran Duran. Dia juga memasang tautan ke sejumlah pertunjukan musik di Bradford. Dia sendiri juga jadi anggota sejumlah bar punk.

Ven Pariah juga muncul membuat "wishlist" di situs Amazon. Desember tahun lalu, Ven Pariah meresensi sebuah buku berjudul "Wanita dan Hidung," sebuah buku mengenai penjahat wanita dan eksekusinya. Ven Pariah memberi lima bintang untuk buku itu. Penulis buku, Richard Clark, disebutnya "berkompeten." Daftar harapannya itu memasukkan 25 buku dan DVD yang umumnya soal kejahatan nyata dan pembunuh berantai.

Polisi Curiga

Polisi Yorkshire Barat menilai ada kaitan antara pemilik halaman di internet itu dengan pembunuhan tiga potongan jasad PSK di Bradford yakni Suzanne Blamires (36), Susan Rushworth (43) dan Shelley Armitage (31). Senin 24 Mei, polisi menutup halaman itu dan menangkap Stephen Griffiths.


Jumat, 28 Mei 2010, Griffiths dibawa ke Pengadilan Bradford, Inggris. Polisi sendiri masih menyelidiki kaitan Griffiths yang orang tuanya bercerai saat dia kecil ini dengan tiga pembunuhan PSK lain yang belum terpecahkan. Bahkan, Griffith mungkin pula terkait dengan kasus penyerangan PSK di kawasan lampu merah Sheffield, Leeds, dan Manchester.

"Ini mungkin bukan hanya soal Bradford," kata sebuah sumber www.dailymail.co.uk. Untuk kasus tiga PSK di Bradford ini sendiri, polisi memiliki bukti kuat, sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang PSK dibunuh. Rekaman itu memperlihatkan seorang wanita yang diduga kuat Blamires diserang sampai tak sadar.


Peristiwa itu terjadi pada suatu akhir pekan. Pengelola gedung yang merekam itu segera menghubungi polisi begitu melihat rekaman itu.

Tubuh Suzanne Blamires ditemukan di sebuah sungai. Sejak Kamis, polisi menggelar operasi besar-besaran mencari sisa jasad Susan Rushworth dan Shelley Armitage yang hilang akhir Juni lalu. Sebuah sisa jasad diduga ditemukan tak jauh dari jasad Blamires.

Bukti Kurang

Sementara itu, sejumlah analis kriminal dan penasihat pencarian orang telah dikerahkan membantu polisi untuk menyelidiki gaya hidup, gerakan dan pola hidup Griffiths. Peter Mann, seorang pengacara senior, menyatakan "kurang bukti" untuk mendakwa Griffiths atas tiga pembunuhan itu.

Tetangga Griffiths sendiri menilai pria berpendidikan ini penyendiri dan aneh. Seorang bekas tetangganya saat kecil menyebut Griffiths kecil "sangat aneh." Dia tinggal bersama dua saudara dan ibunya Moira. Mereka, menurut para tetangga, tak pernah main di luar dan dinilai "aneh."

Suatu waktu Griffiths pernah diketahui membunuh seekor burung di taman. Menginjak dewasa, Griffiths mengambil kuliah psikologi dan terobsesi dengan pembunuhan berantai. Kemudian enam tahun belakangan, Griffiths diketahui mengambil S3 bidang hukum pidana di Universitas Bradford dengan spesialisasi pembunuhan. Namun pihak universitas menolak menceritakan detail ini.

Sementara ketiga korban adalah PSK yang berjuang keras melawan gaya hidup mabuk. Mereka dikenal bersahabat dan hidup berdekatan satu sama lain.

kesaksian seorang PSK yang lolos dari lubang maut 


Dalam waktu berselang satu jam setelah membunuh Suzanne Blamires, terekam CCTV jika Griffiths kembali mencari korban berikutnya. Rekaman CCTV menunjukkan bahwa ada seorang wanita muda sedang terjebak dalam lingkaran pembunuhan sang Crowbow Cannibal. Terlihat Griffiths sedang mendekati pecandu obat bernama Rosalyn Edmondson berusia 28 tahun yang sedang mencari "drugs" dari bandar yang sering berkeliaran sepanjang malam dekat rumahnya. Griffiths berusaha untuk mendekati Edmondson dan membujuk untuk membeli kokain dari temannya dan membujuknya juga untuk masuk kedalam apartemennya. Awalnya dia setuju untuk pergi dengan pria asing berambut hitam tersebut, Mrs. Edmondson yang didalam pengadilan disebut dengan inisial R' terlihat direkaman CCTV sedang berjalan dan berbincang-bincang dengan Griffiths. Namun akhirnya instingnya mengatakan bahwa dia harus segera pergi dari orang asing tersebut {Stephen Griffiths}


Mrs. Edmondson berkata : "Aku tahu aku sangat beruntung, wanita paling beruntung hidup. saya tidak akan keluar dari sana hidup-hidup. aku tidak suka cara dia senyum dan cara dia tiba-tiba dia berubah menggunakan kokain. Dia mengundang saya ke apartemennya. Beberapa naluri dalam membuat saya mengatakan tidak".  


Sumber: telegraph.co.uk dan dailymail.co.uk

Minggu, 19 Desember 2010

Nangis Darah, Sakit Misterius {Haemolacria}


Orang sering bercanda dengan mengatakan “nangis darah” biasanya kata-kata itu diucapkan untuk menggambarkan seseorang yang mengalami persoalan yang teramat menyedihkan atau merugikan. Istilah tersebut tak hanya me nasional sering di ucapkan, mungkin juga ada juga istilah secara daerah. Tapi sebenarnya seperti apakah ekspresi atau wujud nangis darah yang digambarkan seiring ucapan pada umumnya? Silakan Anda improvisasikan sendiri.

Tetapi yang jelas “nangis darah” secara nyata dan letter lux kini ada dan terjadi di dunia. Setidaknya menurut kabar berikut ini.
Mungkin Anda sering mendengar istilah “menangis darah” untuk menunjukkan takar kesedihan yang luar biasa. Namun di Amerika Serikat dan India, ada dua remaja yang benar-benar mengeluarkan darah dari matanya saat menangis.
Adalah Calvinno Inman, remaja laki-laki 16 tahun asal Tennessee, Amerika Serikat, ini bisa mengeluarkan darah dari matanya tiga kali sehari. Tangisan darah Inman bahkan bisa berlangsung hingga satu jam.
Tak hanya ketika sedih, Inman seringkali menangis tanpa sebab. Tiba-tiba matanya terasa berair, dan ketika diusap berwarna merah darah. “Tapi, saya sudah mulai terbiasa dengan kelainan ini, meski awalnya sangat sedih,” ujarnya seperti dikutip dari laman Daily Mail.
Dr Rex Hamilton, dokter spesialis penyakit mata atau ophthalmologi, mengatakan, Inman mungkin menderita penyakit langka haemolacria, yang artinya: tangisan darah. “Saya belum bisa mengatakan penyebabnya, yang pasti penyakit ini kemungkinan hanya terjadi pada satu dari sejuta orang di dunia,” ujarnya.
Kasus senada dialami Twinkle Dwivedi. Remaja perempuan 14 tahun ini bahkan tak hanya sanggup mengeluarkan darah dari matanya 50 kali sehari, tapi juga dari hidung, rambut, dan kulit tanpa luka. Kelalaian yang menyiksanya sejak tiga tahun terakhir ini membuatnya kehilangan banyak darah setiap hari.
Dwivedi merasa tersiksa dengan penyakit misterius itu. Ia merasa tak pernah disakiti atau menyakiti dirinya sendiri. Tapi, darah selalu mengucur dari sejumlah bagian tubuhnya tanpa terkontrol. “Saya tak ingin seperti ini, saya ingin kembali ke sekolah,” kata perempuan yang kini dirawat di sebuah rumah sakit di Mumbai, India.
Dr George Buchanan, dokter spesialis darah atau hematologi, mengaku sulit mendiagnosis penyakit yang diderita Dwivedi. “Saya belum pernah melihat kasus semacam ini, atau mendengarnya dalam sejarah medis,” katanya.


Sumber dan gambar : http://kosmo.vivanews.com/news/read/187571-sakit-misterius–air-matanya-berupa-darah

Selasa, 28 September 2010

DB Cooper - Pembajak Pesawat Misterius Yang Kasusnya Tidak Terpecahkan

Pada tanggal 24 November 1971, seorang pria kurus berambut gelap membayar $20 di bandara Portland, Oregon, untuk membeli tiket satu arah ke Washington. Dengan jas berwarna gelap, dasi yang dijepit, kaca mata hitam dan penampilan yang sopan, tidak ada yang menyangka bahwa pria ini akan melakukan satu kejahatan yang paling misterius dalam sejarah FBI.

Pria itu bernama Dan Cooper. Ia berjalan dengan santai memasuki pesawat Boeing 727 miliki maskapai Northwest Airlines dan duduk di kursi 18C. Beberapa menit setelah pesawat take off, Cooper memanggil pramugari bernama Florence Schaffner yang sedang duduk di dekatnya dan menyerahkan sebuah catatan kecil yang terlipat.

Ms Schaffner mengira Cooper hanya pria iseng lainnya yang berusaha memberikan nomor teleponnya. Jadi ia menerima catatan tersebut dan langsung menyimpannya ke saku tanpa melihat isinya.

"Nona, sebaiknya engkau membaca isi catatan itu. Aku membawa bom." Bisik Cooper kepada Ms Schaffner.

Ms Schaffner tidak mempercayai Cooper begitu saja. Tapi ia segera membuka catatan itu dan membaca tulisan yang tertera disitu. "Aku membawa bom di dalam koperku. Aku akan menggunakannya jika dibutuhkan. Pesawat ini telah dibajak."

Dalam catatan Cooper juga tertulis kalau ia menginginkan uang sebanyak $200.000 dalam pecahan $20 dan dua parasut utama beserta dua parasut cadangannya dikirim ke pesawat ketika mendarat di bandara Seattle-Tacoma, Washington.

Pilot William Scott yang menerima catatan itu dari Ms Schaffner kemudian segera menghubungi pusat pengendali udara di Seattle yang kemudian segera meneruskan pesan itu ke polisi dan FBI. FBI lalu meminta para kru pesawat menuruti keinginan sang pembajak hingga apa yang diinginkannya tersedia.

Sementara itu Cooper duduk dengan tenang di dalam pesawat sambil menikmati Bourbon dan Soda.

Pada pukul 17:24, kru pesawat diberitahu bahwa permintaan Cooper telah dipenuhi. Ketika pesawat mendarat di bandara Seattle-Tacoma, Cooper segera memerintahkan pilot Scott untuk memarkir pesawat di tempat sepi di bandara dan mematikan semua lampu.

Seorang kru pesawat kemudian diperintahkan untuk mengambil uang beserta parasut dari tangan FBI. Setelah uang dan parasut sampai ke tangan Cooper, seluruh 36 penumpang dan pramugari Schaffner dilepaskan. Hanya empat orang kru pesawat yang sekarang ada bersamanya.

Hingga saat itu, para petugas FBI masih tidak mengerti mengapa Cooper meminta parasut.

Pada pukul 19:40, ketika pesawat telah diiisi kembali dengan bahan bakar, Cooper memerintahkan pilot untuk menerbangkan pesawat menuju bandara Reno. Disana pesawat kembali diisi dengan bahan bakar.


Lalu Cooper memerintahkan pilot untuk menerbangkan pesawat ke Mexico dengan kecepatan 170 knots dengan ketinggian dibawah 10.000 kaki. Pada saat itu juga otoritas terkait telah memerintahkan dua pesawat tempur mengikuti pesawat yang dibajak.

Dan di atas pesawat dalam perjalanan menuju Mexico inilah legenda Cooper dimulai.

Tidak lama setelah take off, Cooper menyuruh semua kru untuk masuk ke kokpit pesawat sedangkan ia mengikat parasut ke tubuhnya dan berjalan menuju buritan pesawat.

Di dalam kokpit, para kru melihat lampu indikator menyala dan tekanan udara berubah dengan drastis. Tepat pada pukul 20:13, mereka merasakan pintu di buritan pesawat bersuara dengan keras. Seseorang sepertinya telah membukanya !

Pilot Scott lalu berteriak lewat mikrofon,"Apakah engkau membutuhkan sesuatu ?"

"Tidak !" Kata Cooper.

Itu adalah kata terakhirnya yang didengar oleh para kru.

Cuaca di luar pesawat saat itu hujan lebat.

Dua jam setelah peristiwa itu, pesawat itu mendarat kembali di bandara Reno dengan kondisi pintu buritan terbuka.

Para agen FBI dan polisi lokal segera mengepung dan menyerbu masuk serta memeriksa semua sudut pesawat. Mereka menemukan sisa dua parasut, puntung rokok, sepotong dasi hitam dengan penjepitnya. Mereka tidak menemukan Cooper, koper berisi uang dan dua parasut lainnya.

Para agen FBI berkesimpulan bahwa Cooper telah terjun dari pesawat. Namun para pilot pesawat tempur yang mengikuti pesawat itu mengaku tidak melihat adanya seseorang yang terjun dari pintu buritan. Tapi mereka juga mengakui bahwa cuaca yang gelap dan hujan lebat mungkin telah membuat pandangan mereka menjadi terbatas.

Pencarian terhadap Cooper terus dilakukan pada tahun 1971 hingga tahun 1972. Namun usaha itu sia-sia. Cooper menghilang seperti ditelan bumi.

Lalu FBI mulai memfokuskan perhatiannya pada uang tebusan. Pecahan $20 yang diberikan kepada Cooper adalah uang yang dicetak pada tahun 1969 dengan nomor seri berawalan "L". FBI mengirim peringatan mengenai ini kepada seluruh institusi keuangan di Amerika. Namun usaha ini juga sia-sia. Ini mengindikasikan uang itu mungkin belum masuk ke pasaran.

Pada tahun 1978, tujuh tahun setelah Cooper menghilang, seorang pemburu menemukan sebuah plakat yang berisi instruksi bagaimana menurunkan pintu buritan pesawat Boeing 727 di lokasi yang berjarak hanya beberapa menit penerbangan dari lokasi pendaratan Cooper.

Lalu, pada tahun 1980, Jejak yang mulai mendingin kembali menghangat setelah seorang anak laki-laki bernama Brian Ingram menemukan uang sejumlah $5.880 dalam bentuk pecahan $20 yang telah hancur di sungai Columbia. FBI menemukan nomor seri uang tersebut sama dengan yang telah diserahkan ke Cooper.

Apakah ini berarti Cooper tenggelam di sungai Columbia ? ataukah seikat uang itu hanya terlepas dari ransel Cooper ?

Pertanyaan-pertanyaan ini sepertinya tidak pernah mendapat jawaban yang pasti.

Menurut hasil profiling FBI, Cooper mungkin adalah seseorang yang mengenal wilayah Seattle dengan baik, pernah berdinas di angkatan udara dan memiliki pengalaman dalam hal terjun payung.

Pada tanggal 31 Desember 2007, 36 tahun setelah pembajakan yang terkenal itu, FBI kembali merilis sketsa wajah Cooper, kali ini disertai dengan gambaran apabila ia bertambah tua. Dalam press release, FBI juga mengatakan bahwa mereka percaya Cooper tidak berhasil selamat dalam penerjunan itu, tapi mereka tetap ingin mengetahui identitasnya.

Fakta bahwa FBI merilis kembali sketsa wajah Cooper setelah 36 tahun menunjukkan bahwa mereka tidak mau menyerah untuk membongkar kasus ini.

Keterangan resmi dari FBI baru-baru ini menemukan bahwa nama Dan Cooper ternyata berasal dari sebuah karakter komik terbitan Perancis tahun 1960. Jadi nama Cooper mungkin memang bukan nama asli.

Dalam perjalanan penyelidikan kasus ini, FBI menyusun daftar tersangka yang mencapai hingga 1.000 orang. Dari 1.000 tersangka tersebut, ada tiga orang yang mungkin paling menarik perhatian. Yaitu Richard McCoy Jr, Duane L Weber dan Kenneth P Christiansen.

Tidak berapa lama setelah kasus Cooper, pada tanggal 7 April 1972, seorang pria bernama Richard McCoy Jr naik ke pesawat milik maskapai United Airlines di Denver dan menyerahkan catatan kepada pramugari yang berisi permintaan uang sejumlah $500.000 beserta empat parasut. Luar biasanya, Ia berhasil lolos dengan cara yang sama seperti Cooper, terjun dari pintu buritan pesawat.

McCoy berhasil ditangkap dua hari kemudian setelah seorang temannya melaporkannya dan ia dihukum penjara selama 45 tahun. Pada Agustus 1974, McCoy ditembak mati setelah mencoba melarikan diri dari penjara.

Setelah peristiwa McCoy, mantan agen FBI bernama Russel Calame menerbitkan sebuah buku yang menyatakan bahwa DB Cooper dan McCoy adalah pria yang sama. Dalam buku itu disebutkan bahwa metode yang digunakan oleh McCoy sama persis dengan Cooper.

Namun teori ini dibantah karena bisa saja McCoy hanya meniru apa yang dilakukan oleh Cooper. Lagipula wajahnya tidak sesuai dengan deskripsi para saksi.

Lalu pada tahun 2000, sebuah artikel di US News menyebutkan bahwa seorang janda bernama Jo Weber mengaku bahwa sesaat sebelum meninggal, suaminya Duane L Weber mengaku bahwa ia adalah Dan Cooper. Jo yang curiga lalu menyelidiki latar belakangnya dan menemukan kesamaan-kesamaan yang menakjubkan dengan Cooper. Selain itu Duane pernah mengakui kalau cedera lutut yang dimilikinya adalah akibat terjun dari pesawat.

Jo bercerita bahwa pada tahun 1979 ketika sedang berkunjung ke sungai Columbia, Duane berjalan di tepi sungai sendirian seperti sedang mengenang sesuatu. Lalu Jo juga menemukan tulisan tangan Cooper yang diberikan pada Ms Schaffer persis dengan tulisan tangan suaminya.

Ia lalu menceritakan hasil penemuannya kepada mantan kepala FBI bernama Himmelsbach yang menyelidiki kasus Cooper. Himmelsbach setuju kalau kedua orang itu memiliki banyak kesamaan. Namun penyelidikan terhadap Duane Weber dihentikan karena FBI menemukan bahwa DNA dan sidik jari Duane tidak sama dengan sidik jari yang ditemukan di pesawat.

Pada 29 Oktober 2007, New York Magazine merilis sebuah artikel yang menyebutkan bahwa seorang pria bernama Kenneth P Christiansen telah diidentifikasi sebagai DB Cooper oleh sebuah biro penyelidik swasta. Artikel ini juga menyebut bahwa Kenneth adalah mantan penerjun payung militer, mantan karyawan penerbangan, tinggal di Washington dekat dengan lokasi pembajakan dan kenal dengan karakteristik wilayah lokal dengan baik. Yang paling mencurigakan adalah ia membeli sebuah properti satu tahun setelah pembajakan. Ia juga suka minum bourbon dan merokok. Dan yang pasti, wajahnya sangat mirip dengan sketsa wajah Cooper. Namun FBI kemudian menolak teori ini karena tinggi badan, berat badan dan warna matanya tidak sesuai dengan deskripsi para saksi.

Ini perbandingan foto Kenneth Christiansen dengan DB Cooper. Lihat persamaan yang menakjubkan diantara kedua wajah ini, terutama hidung, rambut, dahi dan telinga.


Setelah McCoy, Weber dan Christiansen tidak lagi mendapat perhatian, Pada tahun 2008, seorang pengacara dari Washington bernama Galen Cook muncul dengan teori yang luar biasa. Menurutnya DB Cooper adalah seorang pria dari San Diego bernama William Pratt Gosset.

Cook percaya bahwa uang tebusan yang diambil Cooper tersimpan di safe deposit Box di Vancouver atas nama William Gosset yang meninggal tahun 2003. Pengacara itu juga menyebut bahwa sketsa yang dirilis oleh FBI sesuai dengan wajah William Gosset.

Menurut Cook, Gosset pernah mengatakan kepada tiga anaknya bahwa ia adalah DB Cooper sambil menunjukkan sebuah kunci safe deposit box. Gosset juga pernah mengaku kepada seorang pensiunan hakim di Salt Lake City bahwa ia adalah DB Cooper.

Hakim itu ingat saat ketika Gosset bercerita kepadanya :
"Pada tahun 1977, Gosset berjalan masuk ke kantorku dan menutup pintunya. Ia mengatakan bahwa ia mungkin sedang berada dalam kesulitan karena telah membajak sebuah pesawat dari Portland ke Seattle beberapa tahun yang lalu dan tanpa sengaja telah meninggalkan sidik jarinya di situ. Ia mengatakan bahwa ia adalah DB Cooper. Aku segera mengatakan kepadanya untuk menutup mulut dan jangan melakukan sesuatu yang bodoh dan tidak lagi menyinggung masalah itu."
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari FBI mengenai William Gosset.

Sampai sekarang, memang Cooper masih belum ditemukan. Entahkah masih hidup atau sudah meninggal. Tapi peristiwa Cooper paling tidak telah merevolusi industri penerbangan di Amerika. Alat pendeteksi logam ditambahkan di banyak bandara. Beberapa peraturan baru ditambahkan. Bahkan satu tahun setelah peristiwa Cooper, semua pesawat Boeing 727 diwajibkan memasang alat yang disebut "Cooper Vane" yang bisa mencegah pintu buritan dibuka selama penerbangan.

Dalam statusnya sebagai pelaku kejahatan yang misterius, boleh dibilang DB Cooper telah mencapai status sama seperti yang dimiliki oleh Jack The Ripper. Namun luar biasanya adalah, tidak ada yang pernah melihat wajah Jack the Ripper sehingga sangat wajar jika ia tidak pernah tertangkap. Soal Cooper, sekitar 40 orang menyaksikan wajahnya di dalam pesawat, namun tetap saja FBI gagal menangkapnya. Inilah yang membuat ia menjadi legenda yang luar biasa.

Kasus Cooper yang juga diberi kode "Norjak" sampai sekarang adalah satu-satunya kejahatan pembajakan pesawat yang tidak berhasil dipecahkan oleh FBI.
 
source: http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/11/db-cooper-yang-misterius-kasus.html

Radio GMR Bandung: Semangat Zaman Musik Rock (Bagian 2)

Oleh Idhar Resmadi, editor Common Room Networks Foundation

Pengantar Redaksi: tanggal 11 September menandai hari berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Demi merayakan "hari radio nasional" ini, beberapa kontributor Jakartabeat.net dalam beberapa hari ke depan menulis tentang beberapa radio di tanah air yang mendedikasikan diri khusus untuk musik rock and roll. Tulisan oleh Samack ini adalah tulisan pertama seri radio tersebut. Selamat membaca, sambil putar Radio Free Europe (R.E.M), The Who Sell Out (The Who) atau Spirit of the Radio (Rush) atau yang lainnya. Idhar Resmadi adalah penulis kedua seri edisi radio ini.

Periode 1991-2003:
Kematian Samuel Marudut, Kontroversi Mega, hingga Kematian GMR

Periode 1990-an  menandai periode penting dalam industri budaya Tanah Air. Dalam era ini, serbuan kapitalisasi budaya mulai gencar setelah pemerintah Soeharto mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan industri budaya yang  lebih longgar bagi pemilik modal. Hal ini ditandai dengan mulai tayangnya televisi swasta, masuknya MTV ke Indonesia, bahkan major label internasional mulai menancapkan kukunya di Indonesia. Kedatangan Bill Clinton pada tahun 1994 yang menginginkan Indonesia membuka pasar musiknya bagi investasi asing menjadi salah satu momen penting akses musik barat menjadi mudah diterima di Indonesia.

Periode ini merupakan sebuah periode penting yang menandai perkembangan musik rock di Bandung. Setelah akses musik barat ke Indonesia menjadi mudah, GMR menjadi salah satu radio (atau malah media satu-satunya) yang menjadi referensi musik rock bagi anak muda Bandung. Mudahnya musik barat masuk ke Indonesia menjadi katarsis baru.

Program-program GMR

Pada era sebelumnya, misalnya tahun 1970-1980an, referensi musik barat “hanya” dimiliki oleh segelintir orang yang memiliki akses ke luar negeri. Dari media masyarakat hanya disuguhkan Album Minggu Kita-nya TVRI. GMR bagi saya menandai era penting bagi referensi musik rock yang saat itu benar-benar terbatas. Radio ini berani memutarkan album terbaru Metallica, Napalm Death, Carcass, Sepultura dalam program unggulannya.

Program seperti Kharisma Persada, 439942, Ring My Bell, Tembang Pribumi, Double R, Sunday Rock, Stone Program dan tentunya Sik Sik adalah beberapa program yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh para metalhead di Bandung. Salah satu hal yang biasa dilakukan anak muda untuk mendapatkan lagu-lagu metal pada masa itu adalah dengan merekamnya pada kaset kosong.

Acara Double R dan Sik Sik adalah dua acara yang notabene bagi saya cukup unik dan penting dalam memberikan edukasi musik. GMR memberikan pengetahuan pada kita betapa pentingnya memberikan integritas dan edukasi kepada musik yang kita cintai. Bukan hanya bersifat mendengar musik di radio sebagai leisure, akan tetapi menumbuhkan semacam kondisi mental yang apresiatif dan produktif -- Banyak band rock/metal di Bandung yang terbentuk setelah pendirinya terpengaruh saat mendengarkan musik rock di GMR.

Pada acara Double R, pendengar diharuskan untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan penyiar. Setiap jawaban yang benar akan mendapat poin. Poin-poin tersebut dikumpulkan setiap minggu untuk mendapatkan hadiah yang boleh dibilang tak seberapa untuk zaman sekarang, poster dan kaset. Pertanyaannya pun bukan sembarang pertanyaan. Tetapi menebak lagu yang diputar oleh penyiar. Kadang lagu yang diputar hanya bagian reff atau akhirnya saja, yang bisa membuat pendengar bingung. Ade Muir (bassis Pure Saturday) adalah salah satu orang yang sering menjadi pemenang kuis “Double R”.

Lain lagi dengan Sik Sik. Konsepnya adalah me-request lagu dan meminta tiga dukungan kepada pendengar lain agar lagu tersebut diputarkan. Uniknya, pendengar ketiga yang merequest lagu yang sama tersebut diharuskan menjawab pertanyaan seputar band yang di-requestnya,  bercerita fasih seputar band itu, dan menebak potongan lagunya. Semua proses berbelit itu hanya demi imbalan agar lagunya diputar --sebuah proses yang mustahil di zaman sekarang di mana mendengarkan musik semudah mendapatkan pisang goreng.Yang paling banyak lagunya diputar akan mendapat gelar “Sarjana Sik Sik”.

Promo band-band lokal

Perjalanan GMR semakin meluas sebagai satu-satunya radio rock di Indonesia. Tak hanya mengangkat musisi Bandung, banyak musisi-musisi rock di luar Bandung yang mempromosikan musiknya melalui GMR. Perannya semakin penting dalam menumbuhkan musik rock sebagai bagian penting dalam industri musik Indonesia yang era itu dibombardir oleh musik-musik alternatif seperti Nugie atau pop-nya Kla Project.

Rotor adalah band thrash metal pertama Indonesia yang merilis album dengan nama Behind the 8th Ball. Sebelumnya demo lagu itu sudah lebih dulu diputar di GMR. Kemudian debut album rock asal Bandung U’Camp, Bayangan, yang diproduseri oleh Ian Antono (gitaris Godbless) dan debut album Rudal, Slitting The World, juga sama-sama demo-demo album tersebut sebelumnya dipromosikan terlebih dahulu oleh GMR. Bahkan mulai dari jawara thrash metal asal Jakarta Sucker Head hingga jagoan-jagoan indie generasi awal macam Pas Band, Puppen, dan Pure Saturday adalah band-band yang “berhasil” dipromosikan oleh GMR.

Peran Samuel Marudut

Keberadaan awal karir Pas Band sebagai pendobrak sikap independen dan anti-kemapanan tentu tak bisa dilepaskan dari peran penting GMR. Pas Band melakukan pre-recording di GMR pada bulan September dan Oktober 1993, berkat campur tangan music director GMR, (alm) Samuel Marudut, dan hasilnya Pas Band merilis debut EP album 4 Through The Sap yang diyakini sebagai album independen pertama di Indonesia.

Awalnya Pas Band sempat frutrasi karena banyak ditolak label rekaman sebelum Samuel Marudut meyakinkan mereka untuk merilis album secara mandiri. Album ini pula yang memecut band-band indie untuk melakukan hal serup,a seperti pada Puppen dan Pure Saturday. Saking berpengaruhnya, 4 Through The Sap masuk ke dalam urutan 9 dari150 album berpengaruh versi Rolling Stone Indonesia.

Era tahun 1995-1996 adalah masa kejayaan musik underground. Masa itu band-band rock/metal mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan itu terlihat dari antusiasme demo band yang dikirim ke GMR. Untuk mengakalinya, GMR membuat acara Bedah Demo dan Demo Live at Studio yang juga merupakan bagian dari rangkaian peringatan acara ulang tahun ke-enam GMR. Acara Bedah Demo (Bedah Musik Tak Berdarah) berawal dari kepedulian GMR terhadap grup-grup band dengan jumlah cukup banyak yang belum sempat membuat demo atau kesulitan menyalurkan demonya. Dan hasil yang terkumpul sangat signifikan, yaitu 108 lagu dari 84 grup band yang diterima disiarkan langsung di GMR kemudian diulas dan dianalisis. GMR menetapkan the best five yaitu "Morsa", "Kid", "Jasad", "Alternative", dan "Cakra".

Demo Live at Studio menjadi tindak lanjut acara Bedah Demo. Selain mengirimkan demo tapenya, grup-grup musik tersebut mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya secara langsung dalam acara ini. Sebelas band metal terdaftar sebagai pengisi acara tersebut yaitu Cakra, Jasad, Kid, Sacreligious, Leppeace, Tympanic Membrance, Existensi, Fatal Death, Noise Damage, The Seconds, dan Fayes. Lima grup yang disebutkan pertama merupakan nominator utama dalam acara Bedah Demo.

Tahun 1996 merupakan tahun dimana band-band lokal mulai memperlihatkan eksistensinya dalam komunitas musik di Bandung. Ekspresi komunitas musik semakin terlihat dengan banyaknya rilisan yang menandai komunitas musik underground kian menggeliat. Band-band metal lokal macam Jasad, Sacrilegious, Noise Damage, Rotten To The Core, Closeminded, Insulin Coma, Koil, Hellburger, Sonic Torment, Piece Of Cake, Pimple adalah  contoh dari band-band indie yang berhasil merilis album.

Selain dari Bandung, Tengkorak dari Jakarta, Rotten Corpse dari Malang dan Slow Death dari Surabaya adalah band underground yang dipromosikan oleh GMR. Era itu merupakan era dimana komunitas indie di Bandung sangat beragam keberadaannya dan hanya GMR yang bisa memutarkan lagu-lagu mereka.

Perjalanan emas GMR dalam menorehkan tinta emas ke dalam semangat zaman musik rock di Indonesia pada dekade 1990-an bukan berarti dicapai tanpa ada jalan terjal. Tanggal 27 Maret 1993, bertepatan dengan Bulan Ramadhan, pendiri sekaligus pemilik GMR, Erwin Sitompul tutup usia. Untuk meneruskan perjalanan GMR, akhirnya istrinya, Ida Sitompul, menggantikan posisi suaminya sebagai direktur.

Pada tanggal 15 Oktober 1994 Samuel Marudut menghembuskan nafas terakhir di kediaman Krisna 'Sucker Head' di daerah Kalibata Jakarta. Ia kemudian dimakamkan di Pemakaman Kristen Pandu Bandung. Ironisnya, Samuel Marudut meninggal ketika sedang mendengarkan lagu “The End” milik The Doors. Itu mengingatkan kita pada satu hal, Samuel Marudut meninggal dunia di usia yang relatif muda, 24 tahun mengingatkan kita akan sosok Jim Morrison – vokalis The Doors, Jim Morrison meninggal di usia 27 tahun.

Nama besar GMR juga sempat tercoreng di mata komunitas punk di Bandung. Kejadian ini bermula dari seorang penyiar GMR yang mencibir musik punk. Ceritanya ada seorang pendengar yang meminta lagu Runtah (nama salah satu band punk asal Bandung), namun penyiar yang bernama Mega itu justru tidak memutarkan request lagu Runtah dan malah mencibir musik Punk sebagai musik sampah. Kejadian ini sempat menjadi kontroversi di kalangan komunitas underground Bandung.

Untuk menentang penyiar radio GMR yang fasis, kemarahan Runtah diteriakkan dalam lirik lagu “Mega” dalam album Punx’N’Skins:

“Modar sia anjing/ Aya hiji penyiar anu ngaranna Mega/ Penyiar GMR / Anu ngaranna Mega / si eta tai pisan/ Anu ngaranna Mega/ Si eta eweuh kanyaho/ Anu ngaranna Mega/ Mega.. Mega… Mega… / Mega anjing .. Mega.. Mega…. Mega… modar sia goblog/ Mega… Mega… Modar siah tai/ Eta penyiar goblog/ Anu ngaranna Mega/ Eta penyiar tai/ Anu ngaranna mega/ Goblog eweuh kanyaho/ Anu ngaranna mega/ Wani gelut jeung aing/ Anu ngaranna mega/ Mega.. Mega… Mega… modar sia anjing/ Modar sia goblog/ Modar siah tai//” (Mati sia anjing/ ada satu penyiar bernama Mega/ penyiar GMR/ yang bernama Mega/ dia tai banget/ yang namanya Mega/ dia gak punya pengetahuan/ yang namanya Mega/ Mega.. Mega… Mega… / Mega anjing… Mega.. Mega.. Mega.. Mega.. Mati lu goblog/ Mega.. Mega… Mega… Mati lu tai/ Dia penyiar goblog/ yang namanya Mega/ dia penyiar tai/ yang namanya Mega/ goblog gak punya pengetahuan/ yang namanya Mega/ berani berantem ama gue/ yang namanya Mega/ Mega… mega.. Mega.. mati lua anjing/ mati lu goblog/ mati lu tai/)

Bagi saya ekspresi kemarahan Runtah adalah sebuah gairah atau kesadaran kolektif tentang betapa pentingnya integritas dan edukasi dalam musik bagi individu yang menyukai musik.
Saking berpengaruhnya GMR masa itu, ekspresi musikal bisa terlahir dari kekecewaan yang berubah menjadi potensi kreativitas yang tinggi.

Kejadian tragis juga sempat mewarnai perjalanan GMR ketika tower pemancar mereka jatuh akibat hujan deras disertai angin kencang hingga menimpa salah satu rumah di kawasan Cipaganti. Selama satu bulan GMR tidak mengudara dikarenakan adanya perbaikan dan pergantian tower pemancar.
Waktu itu beredar gosip bahwa hal itu adalah kutukan tuhan – Maklum musik metal yang diputar oleh GMR dianggap ‘musik setan’. Ketika sebuah majalah muslim menulis Pure Saturday sebagai pemuja setan, karena singkatan “PS” yang diartikan sebagai “Pemuja Setan”.

Akhir riwayat GMR

Menjelang awal milenium GMR mengalami banyak dinamika. Mulai dari keluarnya penyiar-penyiar mereka hingga manajemen yang beralih dari Ida Sitompul ke Gunung Sewu Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi, pendidikan, dan ekspor-impor pisang ini mulai mengambil alih. Peralihan manajemen ini dianggap sebagai awal pemicu kemunduran GMR. Dari tahun 1997 hingga 2000 format musik GMR berubah 70%, dari rock station ke classic rock, di mana lagu-lagu yang diputar dari era tahun 60an hingga 80an. Sementara, metal dan extreme metal ditiadakan karena permintaan dari manajemen baru.

Pergantian format musik menjadi classic rock membuat GMR kehilangan banyak pendengar. Ketika berformat musik rock pada awal 1990 sampai 1997, pendengar GMR mencapai 180 ribu, akan tetapi ketika beralih menjadi classic rock penyusutan pendengar menjadi drastis, dengan hanya 20 ribu pendengar. Tiga tahun berada di format classic rock, tepat Juli 2000 format GMR beralih kembali ke rock station. GMR kembali memutarkan metal.

Tiga tahun bertahan dengan format rock station, 11 September 2003 GMR harus berakhir dikarenakan Gunung Sewu Group memindahkan manajemen-nya ke Femina Group yang mengharuskan format beralih ke female station dan nama radio pun berubah menjadi U FM.

GMR adalah semangat zaman yang tak boleh dilupakan ketika berbicara musik rock/metal di Indonesia. Dari hiruk pikuk, jatuh-bangun, GMR dibangun dari semangat idealisme, fanatisme, dan kecintaan pada musik rock itu sendiri. Para penyiar yang dibangun dengan idealisme dan fanatisme yang sinergis dengan para pendengar yang fanatis itu sendiri (ingat kasus band Runtah di atas).

GMR kini sudah tiada. Akses terhadap industri radio bagi para musisi rock teru tama yang berada di ranah musik metal/death metal adalah hal yang utopis. Kurang lebih sebulan yang lalu, genap awal September, sebuah program musik rock di sebuah radio ternama di Indonesia yang digawangi kawan saya dari band Rocket Rockers dan Alone At Last resmi ditutup dan hanya menerima relay dari Jakarta saja.

Ini menambah daftar kelam program-program musik rock yang kian tenggelam. Ini juga menjadi cerminan ketika hampir empat tahun lalu saat saya mengurus program musik rock, selalu bertabrakan dengan pihak manajemen. Rasanya, membuat radio rock (atau minimal program musik rock) haruslah dibangun dari semangat fanatisme musik yang tinggi, bukan dari persoalan cocok-mencocokkan harga – seperti pemilik GMR Erwin Sitompul yang rela berkorban demi GMR yang bermula dibikin sebatas hobi semata.

Saya sebenarnya berharap banyak akan keberadaan radio-radio streaming dan podcast yang mulai bermunculan sebagai alternatif dari keberadaan industri radio. Ini bisa menjadi semangat zaman baru. Agar musik rock berjaya di udara, dan tak lantas tenggelam. Saya melihatnya seperti Phillip Seymour Hoffman dalam film The Boat That Rocked, sebuah metafora agar memiliki integritas dan fanatisme yang tinggi terhadap musik rock, sambil berteriak lantang dan mengepalkan tangan: “Rock’N’Roll!”

Saya akan menutup tulisan ini dengan "Tips Mendengar Radio" yang diambil dari buletin GMR Generaxi edisi 2 di tahun 1996:

Pilihlah stasiun radio yang kamu sukai.. Jangan yang kamu benci. Kalo nggak mau, ya nggak usah!”(SELESAI).

Link ke tulisan Idhar Resmadi, "Radio GMR Bandung bagian 1": http://www.jakartabeat.net/musik/388-radio-gmr-bandung.html
Link ke tulisan Samack, "Radio Senaputra Malang": http://www.jakartabeat.net/musik/386-radio-rock-senaputra-kota-malang.html

Idhar Resmadi adalah mantan pemimpin Redaksi Ripple Magazine dan sempat menjadi jurnalis di Trax Magazine. Pernah menerbitkan satu buah buku Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008). Kini bekerja sebagai editor di yayasan non-pemerintah Common Room Networks Foundation yang berfokus pada pengembangan seni, teknologi, dan budaya. Selain itu ia juga bekerja sebagai jurnalis yang menyoroti persoalan seni, sosial, dan pendidikan di Kolom Kampus Harian Pikiran Rakyat Bandung. Ia tengah berusaha keras menyelesaikan studinya di Jurnalistik FIKOM Unpad melalui skrips yang bertopik industri budaya di era digital.

Radio GMR Bandung: Semangat Zaman Musik Rock (bagian 1)

Oleh Idhar Resmadi, Editor Common Room Networks Foundation

Pengantar Redaksi: tanggal 11 September menandai hari berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Demi merayakan "hari radio nasional" ini, beberapa kontributor Jakartabeat.net dalam beberapa hari ke depan menulis tentang beberapa radio di tanah air yang mendedikasikan diri khusus untuk musik rock and roll. Tulisan oleh Samack ini adalah tulisan pertama seri radio tersebut. Selamat membaca, sambil putar Radio Free Europe (R.E.M), The Who Sell Out (The Who) atau Spirit of the Radio (Rush) atau yang lainnya. Idhar Resmadi adalah penulis kedua seri edisi radio ini.


“It’s 1966, the greatest era for rock’n’roll. But BBC radio, play less than 45 minutes of pop music a day. By the summer of 1967 the golden age of pirate radio was over, but their big dream never died. These are now 299 music stations across UK. They played rock and pop all day and all of the night. And as for rock’n’roll, well it’s had a pretty good 40 years” (The Boat That Rocked, 2009)

Film komedi satir Airheads yang diperankan Brendan Fraser, Steve Buscemi, dan Adam Sandler ini menceritakan sulitnya menjadi musisi rock yang diterima oleh industri radio. Film ini bercerita tentang ketiga rocker pecundang yang berusaha membajak sebuah stasiun radio agar musik mereka diputar di udara dan didengarkan orang banyak. Meski penjualan film ini termasuk rendah dan masuk dalam kategori B-movie, film ini mendapat status cult oleh para rocker dan metalheads di era 90-an.

Film ini menceritakan simbiosis mutualisma penting antara radio dengan industri musik. Peran radio dalam industri musik tentu memiliki efek luar biasa. Bahkan pertemuan-pertemuan antara para music director dan para petinggi label rekaman diyakini menentukan laju industri musik (terutama di Indonesia) yang masih menyembah statistika-statistika chart dan rating.

Nasib musik rock dalam percaturan industri radio memang masih minim atau kalau boleh dibilang mengkhawatirkan. Boleh jadi nasib radio rock (yah, radio yang benar-benar berformat musik rock atau didominasi musik rock) memang tenggelam ke dasar laut seperti metafora yang digambarkan dalam adegan penutup film The Boat That Rocked, diperankan oleh Phillips Seymour Hoffman (yah, tokoh yang beruntung memerankan Lester Bangs di Almost Famous), yang bercerita tentang nasib pirate rock’n’roll radio di Inggris pada pertengahan 1960-an.

Keberadaan radio rock atau radio yang berformat musik keras rock/metal di Indonesia dewasa ini kalah oleh radio-radio mapan yang lebih aman memutar format-format pop melayu,Top 40, bahkan dangdut. Maka tak aneh, keberadaan radio rock di Indonesia sungguhlah sulit.

Kalau pun ada, mengutip istilah Bono U2, hanyalah radio remaja yang memutarkan musik rock. Maka tak aneh jika musik-musik keras terselip dalam acara-acara “menggelikan” semisal Chart Indie, Top Chart Indie Ten, dan sebagainya. Kalau pun ada band rock, biasanya merupakan band rock yang sudah mempunyai massa semisal The S.I.G.I.T. atau Seringai yang seringkali mendapat high-rotation di radio-radio.

Keengganan media radio untuk memutarkan musik rock notabene memang cerminan dari betapa tidak demokratisnya industri musik Indonesia. Menurut saya, media elektronik seperti radio apalagi televisi merupakan ibu tiri yang tidak demokratis terhadap musik rock. Persoalan rating memang masih menjadi salah satu penyebab musik rock yang terbilang segmented ini tidak bisa meraih pasar atau keuntungan margin profit. Klasik, memang.

Padahal berbicara musik rock, menjadi bagian penting untuk memantau atau memetakan peta politik dan budaya yang terjadi di kalangan anak muda Indonesia. Rock sebagai bagian dari budaya barat tentu berbicara banyak terhadap proses keberbudayaan negara ini. Dari ngak-ngik-ngok, era MTV, hingga festival rock Java Rockinland yang selalu disambut antusias.

Membicarakan musik rock dan peran radio tentu tak bisa dilepaskan dari satu nama yang begitu influensial dalam menyebarkan musik rock di Tanah Air yaitu radio GMR di Bandung. Sebagai sebuah radio peran GMR memang begitu penting sebagai propaganda musik rock menjadi masif di Bandung dan Indonesia. Keberanian mereka untuk mendobrak batasan-batasan radio konvensional patut diacungi jempol. Band-band rock Tanah Air macam Rotor, Roxx, Suckerhead, Pas Band, Puppen, Jasad, U’Camp, Jamrud, tak bisa dilepaskan dari keberadaan GMR dalam karir bermusik mereka.

Dalam perjalanannya, radio GMR merupakan penanda zaman tentang pengaruh musik rock berkembang pesat di Indonesia. Sebagai media yang berkembang pada era orde baru hingga orde reformasi, GMR bisa kita lihat bagaimana fenomena musik rock sejak awal kedatangannya ke Indonesia hingga pengaruhnya yang kian masif sekarang ini. Dari latar belakang politis dan budaya, GMR bagi saya memegang peranan penting untuk membentuk rock menjadi suatu hegemoni pada masa jayanya di tahun 90-an. Bahkan para rocker asal Bandung pada masa itu memegang teguh jargon, “lain budak metal Bandung mun teu ngadengekeun GMR” (bukan anak metal Bandung kalau tidak mendengarkan GMR terj.). Maka GMR adalah sebuah dokumentasi zaman.

Periode 1967-1991: Kebijakan politik anti-barat hingga era stasiun komersial

Pengaruh musik rock menyebar pesat di Indonesia tak bisa dilepaskan dari beberapa kebijakan politik yang terjadi di Indonesia pada pergeseran antara era Orde Lama dan Orde Baru. Radio GMR yang berdiri pada masa Orde Baru, merupakan sebuah katarsis terhadap gejala budaya asing yang sempat dilarang dan kontroversial pada masa Orde Lama era pemerintahan Soekarno.

Pada masa vivere pericoloso (the year of living dangerously), pidato Soekarno pada 17 Agustus 1959 atau dikenal dengan pidato “Penemuan Kembali Revolusi Kita”, menyerukan sebuah sikap melindungi kebudayaan nasional dari pengaruh asing dan melahirkan kebijakan anti-barat yang begitu ketat yang menyebut musik rock sebagai imperialisme baru dari Barat. Maka musik rock ala barat adalah sebuah hal yang dilarang. Koes Plus ditangkap karena dianggap sebagai antek imperialisme, pemuda gondrong menjadi sasaran penertiban, nama band atau musisi berbahasa Inggris dipaksa berubah, dan begitu pula dengan dunia penyiaran radio yang berhenti menyiarkan musik berbau barat.

Memasuki era orde baru industri musik Indonesia mengalami kemajuan karena melonggarnya kebijakan anti-barat setelah diruntuhkannya komunisme. Termasuk dunia penyiaran yang bebas untuk menyiarkan musik-musik berbau barat, seperti musik rock.

Pada masa ini, tepatnya tahun 1967, Erwin Sitompul mendirikan sebuah stasiun radio amatir bernama YG Station (Young Generation) dengan frekuensi 1368 Khz/Am. Nama berbahasa Inggris yang tentu saja haram di era Soekarno. YG juga seperti merayakan kebebasannya mengonsumsi musik barat dengan menggelar konser yang khusus meng-cover lagu-lagu The Rolling Stones dan band asal Jakarta Acid Speed Band sebagai penampil utamanya dan dihadiri oleh para Stone Lovers (fansnya The Rolling Stones yang dibentuk YG) – Di era Soekarno tentu ia bakal geram.

Dalam perkembangannya, YG Station yang merupakan cikal bakal dari radio GMR memiliki pendengar yang sangat banyak di kalangan anak muda apalagi musik yang ditawarkan adalah musik rock yang di era itu menandai lahirnya anak muda baby boomers. Bergabungnya anggota band the Rollies yang merupakan salah satu grup band rock di Bandung banyak mempengaruhi corak musik yang disajikan YG.

Hal itu ditandai dengan kedekatan sang pemilik radio Erwin Sitompul dengan salah satu personil the Rollies yaitu Iwan Rollies untuk memenuhi koleksi perpustakaan lagu-lagu rock buat GMR.Keduanya sama-sama pecinta berat musik blues. Pada perjalanannya, Young Generation pun banyak mengenalkan musisi Kota Bandung, seperti The Rollies, Deddy Stanzah, Freedom Of Rhapsodia, Superkid, Giant Step dan Shark Move.

Ada dua momen penting yang menandai perjalanan YG yaitu  pertama, pada tahun 1971 ketika pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang mengharuskan seluruh stasiun amatir untuk berbadan hukum. YG membentuk badan hukum dengan nama PT Generasi Muda. Bentuk badan hukum ini mengawali hadirnya era stasiun komersial atau swasta di Indonesia.

Momen penting kedua ketika turunnya izin dari pemerintah untuk berganti ke jalur FM (Frekuensi Modulasi). Pada 1 Januari 1991, Radio Generasi Muda mulai berjalan penuh secara komersial di jalur FM dengan frekuensi 104.4 FM. Hal ini merupakan realisasi dari perkembangan teknologi dan keinginan pendengar agar kualitas suara yang dihasilkan lebih baik. Bahkan agar YG senantiasa berpindah ke jalur FM, sang pemilik Erwin Sitompul rela menjual mobil BMW kesayangannya. Sebuah usaha keras, cita-cita, dan idealisme yang tinggi hanya demi hasratnya terhadap musik rock berkembang besar di Bandung.

Syarat-syarat waktu itu untuk berada di jalur FM yaitu diharuskannya sebuah radio memiliki format dan segmen dan nama radio mesti berbahasa Indonesia. Maka 1 Januari 1991 nama YG pun berganti menjadi GMR (Generasi Muda Radio) dan format yang dipilih adalah format Rock Station (blues, slow rock, classic rock, art/progressive rock, hard rock, heavy metal, speed metal, thrash metal hingga death metal) dengan fokus pada segmentasi anak muda yang notabene memiliki gairah terbesar terhadap musik rock. Pada saat itu di Bandung belum ada radio yang mengisi format musik rock. GMR merupakan yang pertama di Bandung bahkan di Indonesia. Stasiun ID yang diusung, “104.4 FM The Best Rock Station In Bandung” (bersambung ke bagian kedua)

Link ke tulisan Idhar Resmadi, "Radio GMR Bandung bagian 2": http://www.jakartabeat.net/musik/389-radio-gmr-bandung-2.html

Link ke tulisan Samack, "Radio Senaputra Malang": http://www.jakartabeat.net/musik/386-radio-rock-senaputra-kota-malang.html


Idhar Resmadi adalah mantan pemimpin Redaksi Ripple Magazine dan sempat menjadi jurnalis di Trax Magazine. Pernah menerbitkan satu buah buku Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008). Kini bekerja sebagai editor di yayasan non-pemerintah Common Room Networks Foundation yang berfokus pada pengembangan seni, teknologi, dan budaya. Selain itu ia juga bekerja sebagai jurnalis yang menyoroti persoalan seni, sosial, dan pendidikan di Kolom Kampus Harian Pikiran Rakyat Bandung. Ia tengah berusaha keras menyelesaikan studinya di Jurnalistik FIKOM Unpad melalui skrips yang bertopik industri budaya di era digital.

Senin, 20 September 2010

Ketika Buah Karyamu Atau Mungkin Hidupmu Ada Dalam Sebuah Harddisk

Minggu pagi 19 september 2010 saya terbangun dari lelap mimpiku, langsung saja saya bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan tentunya tugas rutin yang sungguh-sungguh sangat menyiksaku, buang ingus, dahak, lendir yang ada didalam hidung & tenggorokanku, Damn!!! kalo hanya tiap pagi lalu siang & malamnya lanjut THT ku it's fine, okelah tidak masalah. Hmmmm..... kalo sedang benar-benar bermasalah mungkin hampir seharian saya mengerjakan tugas rutin yang sungguh-sungguh sangat menyiksaku. OK forget it omongan kosong ini, ini semua adalah masalahku titik!!!!!!

Setelah itu saya pun bergegas turun kebawah untuk sarapan, selesai sarapan saya langsung keatas lagi menuju ruangan dimana bisa dibilang diruangan inilah saya hidup sehari-hari. Ya, sebuah ruangan berukuran sekitar kurang lebih 8m X 3m yang tersekat menjadi 2 bagian dimana 1 ruangan tempat dimana saya duduk seharian didepan ok komputer untuk sekedar berinternet ria mau pun menuangkan segala ide dan keluh kesahku baik itu berdesain ria mau pun sekedar semedi mencari inspirasi lagu dan 1 ruangan lagi adalah tempat saya untuk gogorowokan alias bersenandung ria yang kalo malam adalah tempat tidurnya si anak hilang mr. shobandrill.

Pagi itu mungkin adalah waktu yang tepat dan asyik untuk gogorowokan, tapi apa yang terjadi??? Damn, kabel sambungan headphone putus. Hmmmm... siapakah gerangan yang telah membuat sedikit emosiku ini memuncak? pertama-tama saya panggil dulu mr. shobandril karena dia adalah penghuni alias penunggu ruangan ini. 

"Tidak bukan saya", dari mulut mr. shobandrill terucap. 

Lanjut interogasi adalah mba siti {baby sitternya mr. boboy keponakanku yang masih berumur 2 tahun 9 bulan}, ternyata bukan juga. Mr. boboy keponakanku pun sedikit diinterogasi, tapi masih sulit menemukan jawaban yang tepat namanya juga anak masih kecil, kadang menjawab iya kadang menjawab bukan kadang menjawab tikus atau kucing. 

"NAaaahhh...!!!! cocok kayanya mungkin tikus", gumamku.

Semenjak bulan puasa kemarin memang ruangan ini sedikit terganggu dengan kehadiran seekor tikus liar. Lalu saya pun berusaha untuk mencari & menginterogasi sang tikus, owww ternyata sang tikus sudah kabur entah kemana. Forget it!!! Lalu saya pun berinisiatif untuk membereskan ruangan ini agar sedini mungkin mencegah sang tikus datang kembali takut kalo beliau datang kembali mencari korban selanjutnya seperti : kabel mixer, soundcard, speaker, dsb dibantu oleh mr. shobandrill. Akhirnya sekitar jam 2-3an ruangan ini pun telah disulap sedikit rapi dan enak dipandang. 

"mandi dulu ah baru beresin kabel headphone yang telah putus & next gogorowokan", pikirku.

Akhirnya kabelpun telah berfungsi seperti sediakala sekitar jam 4-5an, lalu saya pun melanjutkan aktivitas yang tadi sedikit terhambat, GOGOROWOKAN !!!!!!! beberapa kali saya take vokal untuk laguku yang berjudul "roman", tapi mungkin sepertinya staminaku sudah terkuras dengan aktivitas sebelumnya jadi intinya gagal !!!! maghrib pun tiba dan menghentikan aktivitasku untuk segera mandi dan sholat maghrib, setelah itu saya pun kembali menyalakan ok komputer, tapi apa yang terjadi saudara-saudara????? mr. ok komputer ngadat tidak mau jalan restart lagi restart lagi..... owwww...owww..owww.. penderitaan ini belum berakhir kawan!!!!! Saya pun mencoba untuk mengutak atik mr. ok komputer tapi tetap saja tidak mau jalan.

Esok harinya saya pun bergegas membawa mr. ok komputer untuk diservice, sang pakar pun kutak katik sana sini akhirnya ketahuanlah bahwa penyakitnya adalah Harddisk nya bermasalah. Pikiranku pun langsung kalut dan tidak karuan, ya bagaimana tidak stress bahwa didalam Harddisk itu tersimpan semua data-data penting dari mulai desain, gambar, work, musik, dsb. Hal yang paling-paling menakutkan adalah Data Track Recording feverwine baik yang masih berupa demo atau pun yang sudah dimixing !!!!!!!! Lalu aku pun meminta tolong kepada sang pakar untuk menyelamatkan semua data yang ada dihardiskku.

Mengapa Data didalam Harddiskku itu begitu-begitu sangat pentingnya???? Mungkin bukan hanya saya saja yang terusik dengan masalah yang menurutku lumayan besar ini, pasti juga kalian atau orang lain. Tentunya kita masih ingat bagaimana seorang Ariel {artis Popstar papan atas sekaligus Pornstar tea} harus kehilangan jati diri dan kehidupan sebelumnya dan benar-benar hidupnya berubah drastis 360 derajat lintang khatulistiwa, dari seorang artis papan atas yang namanya sudah sedemikian harum di belantika musik tanah air kita yang mungkin sudah terbiasa dengan hidup bermewah-mewahan kini harus berubah drastis hidupnya menjadi seorang terdakwa kasus pornografi hanya karena video pornonya yang ada didalam HARDDISK laptopnya harus tersebar luas dalam masyarakat karena tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab hingga menyingkirkan berita besar lainnya seperti :"kasus century" dan sekarang Ariel harus menjalani  hari-harinya dibalik jeruji besi. Maaf sekali lagi disini saya bukan sedang membandingkan diriku yang hanyalah seorang NOTHING dengan sang Ariel seseorang yang benar-benar SOMETHING BIG {BIG kitu etana???}.

Baiklah saya ingin sedikit curhat / menceritakan beberapa buah lembaran cerita. Cerita ini dimulai sekitar akhir tahun 2009 dimana saya baru saja beres membangun sebuah ruangan yang seperti saya ceritakan diatas hasil tabungan keringatku sendiri beserta seperangkat alat-alat penunjang lainnya. Ditempat inilah saya mengurung diri untuk bersemedi bersama mr. ok komputer & boogie doll sang rocker doll untuk berkreasi menghasilkan musik yang sebebas-bebasnya, karena musik bagiku adalah universal dan satu lagi berbicara musik bagiku bukanlah menganalisa sebuah genre.

Hampir setahun ini saya memang mengurung diri dalam ruangan ini hingga tidak tahu apa yang telah terjadi diluar sana, duniaku sehari-hari hanyalah komputer dan seperangkat alat musik. Di tahun 2010 ini saya memang bertekad untuk menuntaskan sebuah project musikalitas yang sempat tertunda dan terhenti beberapa tahun lamanya karena suatu alasan yang prinsipal. Lagu demi lagu telah saya hasilkan dan beberapa lagu pun telah saya share dalam media internet untuk sebuah keisengan semata dan kepuasan bathin yang benar-benar saya nikmati. Entahlah, musik bagiku seperti sebuah candu yang menyenangkan dan seperti layaknya menuangkan kisah hidup kedalam coretan sebuah diary.

Hampir setahun ini memang saya tidak mengkhususkan diri untuk getol mencari dollar seperti tahun-tahun sebelumnya yang alhamdulillah bisa terkumpul dan menabung untuk sebuah ruangan studio yang sungguh-sungguh masih sangat sederhana. Berawal dari iseng untuk mengshare beberapa lagu ke media internet dan ternyata respon yang didapat pun tidak terlalu mengecewakan membuat saya bertekad untuk melanjutkan project musikalitas ini. Entahlah seperti apa nantinya saya tidak perduli biarkan waktu yang kan menjawabnya karena saya hanya ingin berkarya dan berkarya terus berkarya membangun sebuah musik yang benar-benar sesuai dengan apa yang saya inginkan tanpa harus bersekutu dengan industri musik komersialisme yang sekarang sudah demikian menjamurnya di TV nasional kita hanya dengan bermodalkan mungkin 1 single yang mendayu-dayu {Alay lah pokonamah} dan tentunya dengan modal yang kuat!!! dan hingga akhirnya saya akan berhenti total karena memang sudah tidak memungkinkan lagi bagiku untuk berkarya.

Lagu demi lagu sound demi sound pun berhasil saya ciptakan untuk kurun waktu yang lumayan cukup lama karena disini mood pun ikut berperan serta dalam membangun musikku. Apalagi kondisi tubuhku yang sekarang rentan sakit membuat proyek musikalitas ini sedikit terhambat, ya memang THT ku sedikit terganggu mungkin ini adalah buah dari masa laluku. Karena kondisi inilah beberapa lagu kebanyakan belum di take / diisi vokalnya, saya bertekad setelah lebaran kemarin saya mulai berjuang untuk mengisi take vokal, dan ketika hari minggu kemarin saya ingin melanjutkan perjuangan yang tertunda ini sungguh diluar skenario dan harapanku, tiba-tiba saja mr. ok komputer tidak bersahabat dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah Harddisk dimana tempat saya menyimpan hasil karya saya dan beberapa dokumen maupun hasil desain edit video FW saya pun positif error. 

WTH????!!!!!! disaat saya sedang tidak bersahabat dengan mr. money {problema setelah lebaran} maupun ada sedikit kredit macet dari relasi bisnis saya membuat saya seperti mendapat sebuah pukulan telak yang bertubi-tubi apalagi ini ditambah dengan masalah harddisk error. Bagaimana tidak down hampir setahun ini saya berkarya mengumpulkan materi demi materi lagu hingga hampir mendekati sebuah titik finish, dan kini apa yang terjadi????? WTH ???!!!!!!

Penderitaan ini belum berakhir kawan !!!!! Saya berharap semoga sang pakar masih bisa menyelamatkan data harddisk saya {keadaan harddiskku sekarang kadang terdetect kadang tidak dan lumayan lemot ketika sedang memindahkan data}, semoga semoga semoga.... i wish i hope for the better & lucky tomorow....... amien. 
Tetapi apabila semuanya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan........
hmmmmmm........ entahlah.......... entahlah........ entahlah..................
saya sudah tidak mampu lagi berkata-kata..................................

Note : kepada teman-teman supaya tidak mengalami kejadian mengenaskan seperti yang saya alami sebaiknya prepare untuk mengambil tindakan-tindakan yang tepat dan jitu seperti selalu menyimpan duplikat data entah dalam CD atau berupa perangkat lainnya seperti Harddisk eksternal, dsb.  
 

Selasa, 31 Agustus 2010

rockstar ceunah


Ketika sedang asyik bermain-main dengan paman google tanpa disengaja saya menemukan foto ini, entah kenapa tiba-tiba hati saya seperti yang tidak nyaman melihat frame tersebut. Melihat dari frame tersebut dapat dipastikan bahwa itu adalah pemandangan dari sebuah suasana gigs /event musik, lalu kenapa ko ada yang pake mukena segala ??? ih sieun ih atuuutttt seyeeeuuum, hahahahahaa.... meureun ceuk manehna mah aksi teatrikal ala rockstar ceunah, kalo mau maen musik mah maen musik aja brow ga usah bawa-bawa / ngehujat agama segala atuh, istighfar ah jang kade........ maaf ya bukannya saya sok agamis, saya juga mengakui ko kalo saya ini bukanlah manusia tanpa dosa, cuman saya mah ngasih masukan aja jangan suka maen-maen dengan agama entar masuk acara "misteri illahi" loh... wallahu'alam.......

Minggu, 29 Agustus 2010

The Basketball Diaries Movie {1995}


Basketball Diaries adalah sebuah film drama Amerika yang diproduksi sekitar tahun 1995, disutradarai oleh Scott Kalvert dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, Lorraine Bracco, James Madio dan Mark Wahlberg. Alur cerita film ini didasarkan pada buku otobiografi kehidupan Jim Carrol sekitar tahun 60-an dengan judul yang sama.

Film diadaptasi dari kehidupan jalanan seorang Jim Carroll diperankan oleh Leonardo DiCaprio, Jim Carrol adalah anggota tim basket di sekolahannya. Mimpi Jim untuk menjadi bintang pemain basket sepertinya tidak berjalan mulus karena ia terjatuh dalam dunia mengerikan sebagai pecandu narkoba. Sahabatnya Bobby sekarat di rumah sakit karena leukemia, pelatih basket, Swifty, memergoki Jim dan teman-teman team basketnya sedang menggunakan narkoba sehingga membuat tim basketnya pecah dan semuanya dikeluarkan dari tim basket oleh Swifty sang pelatih.
Keluar dari sekolah dan tim basketnya membuat Jim terhempas dalam kehidupan jalanan, akalnya menjadi picik dari mulai mengkhianati teman-temannya, mencuri toko, seks bebas hingga melakukan apa saja untuk memenuhi kecanduan heroinnya. Beruntunglah ada Reggie yang mantan pecandu juga berusaha untuk membantu Jim kembali kedalam kehidupan yang normal.