Selasa, 28 September 2010

Radio GMR Bandung: Semangat Zaman Musik Rock (bagian 1)

Oleh Idhar Resmadi, Editor Common Room Networks Foundation

Pengantar Redaksi: tanggal 11 September menandai hari berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Demi merayakan "hari radio nasional" ini, beberapa kontributor Jakartabeat.net dalam beberapa hari ke depan menulis tentang beberapa radio di tanah air yang mendedikasikan diri khusus untuk musik rock and roll. Tulisan oleh Samack ini adalah tulisan pertama seri radio tersebut. Selamat membaca, sambil putar Radio Free Europe (R.E.M), The Who Sell Out (The Who) atau Spirit of the Radio (Rush) atau yang lainnya. Idhar Resmadi adalah penulis kedua seri edisi radio ini.


“It’s 1966, the greatest era for rock’n’roll. But BBC radio, play less than 45 minutes of pop music a day. By the summer of 1967 the golden age of pirate radio was over, but their big dream never died. These are now 299 music stations across UK. They played rock and pop all day and all of the night. And as for rock’n’roll, well it’s had a pretty good 40 years” (The Boat That Rocked, 2009)

Film komedi satir Airheads yang diperankan Brendan Fraser, Steve Buscemi, dan Adam Sandler ini menceritakan sulitnya menjadi musisi rock yang diterima oleh industri radio. Film ini bercerita tentang ketiga rocker pecundang yang berusaha membajak sebuah stasiun radio agar musik mereka diputar di udara dan didengarkan orang banyak. Meski penjualan film ini termasuk rendah dan masuk dalam kategori B-movie, film ini mendapat status cult oleh para rocker dan metalheads di era 90-an.

Film ini menceritakan simbiosis mutualisma penting antara radio dengan industri musik. Peran radio dalam industri musik tentu memiliki efek luar biasa. Bahkan pertemuan-pertemuan antara para music director dan para petinggi label rekaman diyakini menentukan laju industri musik (terutama di Indonesia) yang masih menyembah statistika-statistika chart dan rating.

Nasib musik rock dalam percaturan industri radio memang masih minim atau kalau boleh dibilang mengkhawatirkan. Boleh jadi nasib radio rock (yah, radio yang benar-benar berformat musik rock atau didominasi musik rock) memang tenggelam ke dasar laut seperti metafora yang digambarkan dalam adegan penutup film The Boat That Rocked, diperankan oleh Phillips Seymour Hoffman (yah, tokoh yang beruntung memerankan Lester Bangs di Almost Famous), yang bercerita tentang nasib pirate rock’n’roll radio di Inggris pada pertengahan 1960-an.

Keberadaan radio rock atau radio yang berformat musik keras rock/metal di Indonesia dewasa ini kalah oleh radio-radio mapan yang lebih aman memutar format-format pop melayu,Top 40, bahkan dangdut. Maka tak aneh, keberadaan radio rock di Indonesia sungguhlah sulit.

Kalau pun ada, mengutip istilah Bono U2, hanyalah radio remaja yang memutarkan musik rock. Maka tak aneh jika musik-musik keras terselip dalam acara-acara “menggelikan” semisal Chart Indie, Top Chart Indie Ten, dan sebagainya. Kalau pun ada band rock, biasanya merupakan band rock yang sudah mempunyai massa semisal The S.I.G.I.T. atau Seringai yang seringkali mendapat high-rotation di radio-radio.

Keengganan media radio untuk memutarkan musik rock notabene memang cerminan dari betapa tidak demokratisnya industri musik Indonesia. Menurut saya, media elektronik seperti radio apalagi televisi merupakan ibu tiri yang tidak demokratis terhadap musik rock. Persoalan rating memang masih menjadi salah satu penyebab musik rock yang terbilang segmented ini tidak bisa meraih pasar atau keuntungan margin profit. Klasik, memang.

Padahal berbicara musik rock, menjadi bagian penting untuk memantau atau memetakan peta politik dan budaya yang terjadi di kalangan anak muda Indonesia. Rock sebagai bagian dari budaya barat tentu berbicara banyak terhadap proses keberbudayaan negara ini. Dari ngak-ngik-ngok, era MTV, hingga festival rock Java Rockinland yang selalu disambut antusias.

Membicarakan musik rock dan peran radio tentu tak bisa dilepaskan dari satu nama yang begitu influensial dalam menyebarkan musik rock di Tanah Air yaitu radio GMR di Bandung. Sebagai sebuah radio peran GMR memang begitu penting sebagai propaganda musik rock menjadi masif di Bandung dan Indonesia. Keberanian mereka untuk mendobrak batasan-batasan radio konvensional patut diacungi jempol. Band-band rock Tanah Air macam Rotor, Roxx, Suckerhead, Pas Band, Puppen, Jasad, U’Camp, Jamrud, tak bisa dilepaskan dari keberadaan GMR dalam karir bermusik mereka.

Dalam perjalanannya, radio GMR merupakan penanda zaman tentang pengaruh musik rock berkembang pesat di Indonesia. Sebagai media yang berkembang pada era orde baru hingga orde reformasi, GMR bisa kita lihat bagaimana fenomena musik rock sejak awal kedatangannya ke Indonesia hingga pengaruhnya yang kian masif sekarang ini. Dari latar belakang politis dan budaya, GMR bagi saya memegang peranan penting untuk membentuk rock menjadi suatu hegemoni pada masa jayanya di tahun 90-an. Bahkan para rocker asal Bandung pada masa itu memegang teguh jargon, “lain budak metal Bandung mun teu ngadengekeun GMR” (bukan anak metal Bandung kalau tidak mendengarkan GMR terj.). Maka GMR adalah sebuah dokumentasi zaman.

Periode 1967-1991: Kebijakan politik anti-barat hingga era stasiun komersial

Pengaruh musik rock menyebar pesat di Indonesia tak bisa dilepaskan dari beberapa kebijakan politik yang terjadi di Indonesia pada pergeseran antara era Orde Lama dan Orde Baru. Radio GMR yang berdiri pada masa Orde Baru, merupakan sebuah katarsis terhadap gejala budaya asing yang sempat dilarang dan kontroversial pada masa Orde Lama era pemerintahan Soekarno.

Pada masa vivere pericoloso (the year of living dangerously), pidato Soekarno pada 17 Agustus 1959 atau dikenal dengan pidato “Penemuan Kembali Revolusi Kita”, menyerukan sebuah sikap melindungi kebudayaan nasional dari pengaruh asing dan melahirkan kebijakan anti-barat yang begitu ketat yang menyebut musik rock sebagai imperialisme baru dari Barat. Maka musik rock ala barat adalah sebuah hal yang dilarang. Koes Plus ditangkap karena dianggap sebagai antek imperialisme, pemuda gondrong menjadi sasaran penertiban, nama band atau musisi berbahasa Inggris dipaksa berubah, dan begitu pula dengan dunia penyiaran radio yang berhenti menyiarkan musik berbau barat.

Memasuki era orde baru industri musik Indonesia mengalami kemajuan karena melonggarnya kebijakan anti-barat setelah diruntuhkannya komunisme. Termasuk dunia penyiaran yang bebas untuk menyiarkan musik-musik berbau barat, seperti musik rock.

Pada masa ini, tepatnya tahun 1967, Erwin Sitompul mendirikan sebuah stasiun radio amatir bernama YG Station (Young Generation) dengan frekuensi 1368 Khz/Am. Nama berbahasa Inggris yang tentu saja haram di era Soekarno. YG juga seperti merayakan kebebasannya mengonsumsi musik barat dengan menggelar konser yang khusus meng-cover lagu-lagu The Rolling Stones dan band asal Jakarta Acid Speed Band sebagai penampil utamanya dan dihadiri oleh para Stone Lovers (fansnya The Rolling Stones yang dibentuk YG) – Di era Soekarno tentu ia bakal geram.

Dalam perkembangannya, YG Station yang merupakan cikal bakal dari radio GMR memiliki pendengar yang sangat banyak di kalangan anak muda apalagi musik yang ditawarkan adalah musik rock yang di era itu menandai lahirnya anak muda baby boomers. Bergabungnya anggota band the Rollies yang merupakan salah satu grup band rock di Bandung banyak mempengaruhi corak musik yang disajikan YG.

Hal itu ditandai dengan kedekatan sang pemilik radio Erwin Sitompul dengan salah satu personil the Rollies yaitu Iwan Rollies untuk memenuhi koleksi perpustakaan lagu-lagu rock buat GMR.Keduanya sama-sama pecinta berat musik blues. Pada perjalanannya, Young Generation pun banyak mengenalkan musisi Kota Bandung, seperti The Rollies, Deddy Stanzah, Freedom Of Rhapsodia, Superkid, Giant Step dan Shark Move.

Ada dua momen penting yang menandai perjalanan YG yaitu  pertama, pada tahun 1971 ketika pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang mengharuskan seluruh stasiun amatir untuk berbadan hukum. YG membentuk badan hukum dengan nama PT Generasi Muda. Bentuk badan hukum ini mengawali hadirnya era stasiun komersial atau swasta di Indonesia.

Momen penting kedua ketika turunnya izin dari pemerintah untuk berganti ke jalur FM (Frekuensi Modulasi). Pada 1 Januari 1991, Radio Generasi Muda mulai berjalan penuh secara komersial di jalur FM dengan frekuensi 104.4 FM. Hal ini merupakan realisasi dari perkembangan teknologi dan keinginan pendengar agar kualitas suara yang dihasilkan lebih baik. Bahkan agar YG senantiasa berpindah ke jalur FM, sang pemilik Erwin Sitompul rela menjual mobil BMW kesayangannya. Sebuah usaha keras, cita-cita, dan idealisme yang tinggi hanya demi hasratnya terhadap musik rock berkembang besar di Bandung.

Syarat-syarat waktu itu untuk berada di jalur FM yaitu diharuskannya sebuah radio memiliki format dan segmen dan nama radio mesti berbahasa Indonesia. Maka 1 Januari 1991 nama YG pun berganti menjadi GMR (Generasi Muda Radio) dan format yang dipilih adalah format Rock Station (blues, slow rock, classic rock, art/progressive rock, hard rock, heavy metal, speed metal, thrash metal hingga death metal) dengan fokus pada segmentasi anak muda yang notabene memiliki gairah terbesar terhadap musik rock. Pada saat itu di Bandung belum ada radio yang mengisi format musik rock. GMR merupakan yang pertama di Bandung bahkan di Indonesia. Stasiun ID yang diusung, “104.4 FM The Best Rock Station In Bandung” (bersambung ke bagian kedua)

Link ke tulisan Idhar Resmadi, "Radio GMR Bandung bagian 2": http://www.jakartabeat.net/musik/389-radio-gmr-bandung-2.html

Link ke tulisan Samack, "Radio Senaputra Malang": http://www.jakartabeat.net/musik/386-radio-rock-senaputra-kota-malang.html


Idhar Resmadi adalah mantan pemimpin Redaksi Ripple Magazine dan sempat menjadi jurnalis di Trax Magazine. Pernah menerbitkan satu buah buku Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008). Kini bekerja sebagai editor di yayasan non-pemerintah Common Room Networks Foundation yang berfokus pada pengembangan seni, teknologi, dan budaya. Selain itu ia juga bekerja sebagai jurnalis yang menyoroti persoalan seni, sosial, dan pendidikan di Kolom Kampus Harian Pikiran Rakyat Bandung. Ia tengah berusaha keras menyelesaikan studinya di Jurnalistik FIKOM Unpad melalui skrips yang bertopik industri budaya di era digital.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar