Oleh Idhar Resmadi, Editor Common Room Networks Foundation
Pengantar
Redaksi: tanggal 11 September menandai hari berdirinya Radio Republik
Indonesia (RRI). Demi merayakan "hari radio nasional" ini, beberapa
kontributor Jakartabeat.net dalam beberapa hari ke depan menulis tentang
beberapa radio di tanah air yang mendedikasikan diri khusus untuk musik
rock and roll. Tulisan oleh Samack ini adalah tulisan pertama seri
radio tersebut. Selamat membaca, sambil putar Radio Free Europe (R.E.M),
The Who Sell Out (The Who) atau Spirit of the Radio (Rush) atau yang
lainnya. Idhar Resmadi adalah penulis kedua seri edisi radio ini.
“It’s 1966, the greatest era for rock’n’roll. But BBC radio, play
less than 45 minutes of pop music a day. By the summer of 1967 the
golden age of pirate radio was over, but their big dream never died.
These are now 299 music stations across UK. They played rock and pop all
day and all of the night. And as for rock’n’roll, well it’s had a
pretty good 40 years” (The Boat That Rocked, 2009)
Film komedi satir Airheads yang diperankan Brendan Fraser,
Steve Buscemi, dan Adam Sandler ini menceritakan sulitnya menjadi musisi
rock yang diterima oleh industri radio. Film ini bercerita tentang
ketiga rocker pecundang yang berusaha membajak sebuah stasiun radio agar
musik mereka diputar di udara dan didengarkan orang banyak. Meski
penjualan film ini termasuk rendah dan masuk dalam kategori B-movie,
film ini mendapat status cult oleh para rocker dan metalheads di era 90-an.
Film ini menceritakan simbiosis mutualisma penting antara radio
dengan industri musik. Peran radio dalam industri musik tentu memiliki
efek luar biasa. Bahkan pertemuan-pertemuan antara para music director
dan para petinggi label rekaman diyakini menentukan laju industri musik
(terutama di Indonesia) yang masih menyembah statistika-statistika chart dan rating.
Nasib musik rock dalam percaturan industri radio memang masih minim
atau kalau boleh dibilang mengkhawatirkan. Boleh jadi nasib radio rock
(yah, radio yang benar-benar berformat musik rock atau didominasi musik
rock) memang tenggelam ke dasar laut seperti metafora yang digambarkan
dalam adegan penutup film The Boat That Rocked, diperankan oleh Phillips Seymour Hoffman (yah, tokoh yang beruntung memerankan Lester Bangs di Almost Famous), yang bercerita tentang nasib pirate rock’n’roll radio di Inggris pada pertengahan 1960-an.
Keberadaan radio rock atau radio yang berformat musik keras
rock/metal di Indonesia dewasa ini kalah oleh radio-radio mapan yang
lebih aman memutar format-format pop melayu,Top 40, bahkan dangdut. Maka
tak aneh, keberadaan radio rock di Indonesia sungguhlah sulit.
Kalau pun ada, mengutip istilah Bono U2, hanyalah radio remaja yang
memutarkan musik rock. Maka tak aneh jika musik-musik keras terselip
dalam acara-acara “menggelikan” semisal Chart Indie, Top Chart Indie Ten,
dan sebagainya. Kalau pun ada band rock, biasanya merupakan band rock
yang sudah mempunyai massa semisal The S.I.G.I.T. atau Seringai yang
seringkali mendapat high-rotation di radio-radio.
Keengganan media radio untuk memutarkan musik rock notabene memang
cerminan dari betapa tidak demokratisnya industri musik Indonesia.
Menurut saya, media elektronik seperti radio apalagi televisi merupakan
ibu tiri yang tidak demokratis terhadap musik rock. Persoalan rating
memang masih menjadi salah satu penyebab musik rock yang terbilang
segmented ini tidak bisa meraih pasar atau keuntungan margin profit.
Klasik, memang.
Padahal berbicara musik rock, menjadi bagian penting untuk memantau
atau memetakan peta politik dan budaya yang terjadi di kalangan anak
muda Indonesia. Rock sebagai bagian dari budaya barat tentu berbicara
banyak terhadap proses keberbudayaan negara ini. Dari ngak-ngik-ngok,
era MTV, hingga festival rock Java Rockinland yang selalu disambut
antusias.
Membicarakan musik rock dan peran radio tentu tak bisa dilepaskan
dari satu nama yang begitu influensial dalam menyebarkan musik rock di
Tanah Air yaitu radio GMR di Bandung. Sebagai sebuah radio peran GMR
memang begitu penting sebagai propaganda musik rock menjadi masif di
Bandung dan Indonesia. Keberanian mereka untuk mendobrak batasan-batasan
radio konvensional patut diacungi jempol. Band-band rock Tanah Air
macam Rotor, Roxx, Suckerhead, Pas Band, Puppen, Jasad, U’Camp, Jamrud,
tak bisa dilepaskan dari keberadaan GMR dalam karir bermusik mereka.
Dalam perjalanannya, radio GMR merupakan penanda zaman tentang
pengaruh musik rock berkembang pesat di Indonesia. Sebagai media yang
berkembang pada era orde baru hingga orde reformasi, GMR bisa kita lihat
bagaimana fenomena musik rock sejak awal kedatangannya ke Indonesia
hingga pengaruhnya yang kian masif sekarang ini. Dari latar belakang
politis dan budaya, GMR bagi saya memegang peranan penting untuk
membentuk rock menjadi suatu hegemoni pada masa jayanya di tahun 90-an.
Bahkan para rocker asal Bandung pada masa itu memegang teguh jargon, “lain budak metal Bandung mun teu ngadengekeun GMR” (bukan anak metal Bandung kalau tidak mendengarkan GMR terj.). Maka GMR adalah sebuah dokumentasi zaman.
Periode 1967-1991: Kebijakan politik anti-barat hingga era stasiun komersial
Pengaruh musik rock menyebar pesat di Indonesia tak bisa dilepaskan
dari beberapa kebijakan politik yang terjadi di Indonesia pada
pergeseran antara era Orde Lama dan Orde Baru. Radio GMR yang berdiri
pada masa Orde Baru, merupakan sebuah katarsis terhadap gejala budaya
asing yang sempat dilarang dan kontroversial pada masa Orde Lama era
pemerintahan Soekarno.
Pada masa vivere pericoloso (the year of living dangerously),
pidato Soekarno pada 17 Agustus 1959 atau dikenal dengan pidato
“Penemuan Kembali Revolusi Kita”, menyerukan sebuah sikap melindungi
kebudayaan nasional dari pengaruh asing dan melahirkan kebijakan
anti-barat yang begitu ketat yang menyebut musik rock sebagai
imperialisme baru dari Barat. Maka musik rock ala barat adalah sebuah
hal yang dilarang. Koes Plus ditangkap karena dianggap sebagai antek
imperialisme, pemuda gondrong menjadi sasaran penertiban, nama band atau
musisi berbahasa Inggris dipaksa berubah, dan begitu pula dengan dunia
penyiaran radio yang berhenti menyiarkan musik berbau barat.
Memasuki era orde baru industri musik Indonesia mengalami kemajuan
karena melonggarnya kebijakan anti-barat setelah diruntuhkannya
komunisme. Termasuk dunia penyiaran yang bebas untuk menyiarkan
musik-musik berbau barat, seperti musik rock.
Pada masa ini, tepatnya tahun 1967, Erwin Sitompul mendirikan sebuah
stasiun radio amatir bernama YG Station (Young Generation) dengan
frekuensi 1368 Khz/Am. Nama berbahasa Inggris yang tentu saja haram di
era Soekarno. YG juga seperti merayakan kebebasannya mengonsumsi musik
barat dengan menggelar konser yang khusus meng-cover lagu-lagu The
Rolling Stones dan band asal Jakarta Acid Speed Band sebagai penampil
utamanya dan dihadiri oleh para Stone Lovers (fansnya The Rolling Stones
yang dibentuk YG) – Di era Soekarno tentu ia bakal geram.
Dalam perkembangannya, YG Station yang merupakan cikal bakal dari
radio GMR memiliki pendengar yang sangat banyak di kalangan anak muda
apalagi musik yang ditawarkan adalah musik rock yang di era itu menandai
lahirnya anak muda baby boomers. Bergabungnya anggota band the Rollies
yang merupakan salah satu grup band rock di Bandung banyak mempengaruhi
corak musik yang disajikan YG.
Hal itu ditandai dengan kedekatan sang pemilik radio Erwin Sitompul
dengan salah satu personil the Rollies yaitu Iwan Rollies untuk memenuhi
koleksi perpustakaan lagu-lagu rock buat GMR.Keduanya sama-sama pecinta
berat musik blues. Pada perjalanannya, Young Generation pun banyak
mengenalkan musisi Kota Bandung, seperti The Rollies, Deddy Stanzah,
Freedom Of Rhapsodia, Superkid, Giant Step dan Shark Move.
Ada dua momen penting yang menandai perjalanan YG yaitu pertama,
pada tahun 1971 ketika pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang
mengharuskan seluruh stasiun amatir untuk berbadan hukum. YG membentuk
badan hukum dengan nama PT Generasi Muda. Bentuk badan hukum ini
mengawali hadirnya era stasiun komersial atau swasta di Indonesia.
Momen penting kedua ketika turunnya izin dari pemerintah untuk
berganti ke jalur FM (Frekuensi Modulasi). Pada 1 Januari 1991, Radio
Generasi Muda mulai berjalan penuh secara komersial di jalur FM dengan
frekuensi 104.4 FM. Hal ini merupakan realisasi dari perkembangan
teknologi dan keinginan pendengar agar kualitas suara yang dihasilkan
lebih baik. Bahkan agar YG senantiasa berpindah ke jalur FM, sang
pemilik Erwin Sitompul rela menjual mobil BMW kesayangannya. Sebuah
usaha keras, cita-cita, dan idealisme yang tinggi hanya demi hasratnya
terhadap musik rock berkembang besar di Bandung.
Syarat-syarat waktu itu untuk berada di jalur FM yaitu diharuskannya
sebuah radio memiliki format dan segmen dan nama radio mesti berbahasa
Indonesia. Maka 1 Januari 1991 nama YG pun berganti menjadi GMR
(Generasi Muda Radio) dan format yang dipilih adalah format Rock Station
(blues, slow rock, classic rock, art/progressive rock, hard rock, heavy
metal, speed metal, thrash metal hingga death metal) dengan fokus pada
segmentasi anak muda yang notabene memiliki gairah terbesar terhadap
musik rock. Pada saat itu di Bandung belum ada radio yang mengisi format
musik rock. GMR merupakan yang pertama di Bandung bahkan di Indonesia.
Stasiun ID yang diusung, “104.4 FM The Best Rock Station In Bandung” (bersambung ke bagian kedua)
Link ke tulisan Idhar Resmadi, "Radio GMR Bandung bagian 2": http://www.jakartabeat.net/musik/389-radio-gmr-bandung-2.html
Link ke tulisan Samack, "Radio Senaputra Malang": http://www.jakartabeat.net/musik/386-radio-rock-senaputra-kota-malang.html
| Idhar Resmadi adalah mantan pemimpin Redaksi Ripple Magazine dan sempat menjadi jurnalis di Trax Magazine. Pernah menerbitkan satu buah buku Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008). Kini bekerja sebagai editor di yayasan non-pemerintah Common Room Networks Foundation yang berfokus pada pengembangan seni, teknologi, dan budaya. Selain itu ia juga bekerja sebagai jurnalis yang menyoroti persoalan seni, sosial, dan pendidikan di Kolom Kampus Harian Pikiran Rakyat Bandung. Ia tengah berusaha keras menyelesaikan studinya di Jurnalistik FIKOM Unpad melalui skrips yang bertopik industri budaya di era digital. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar