Selasa, 28 September 2010

Radio GMR Bandung: Semangat Zaman Musik Rock (Bagian 2)

Oleh Idhar Resmadi, editor Common Room Networks Foundation

Pengantar Redaksi: tanggal 11 September menandai hari berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Demi merayakan "hari radio nasional" ini, beberapa kontributor Jakartabeat.net dalam beberapa hari ke depan menulis tentang beberapa radio di tanah air yang mendedikasikan diri khusus untuk musik rock and roll. Tulisan oleh Samack ini adalah tulisan pertama seri radio tersebut. Selamat membaca, sambil putar Radio Free Europe (R.E.M), The Who Sell Out (The Who) atau Spirit of the Radio (Rush) atau yang lainnya. Idhar Resmadi adalah penulis kedua seri edisi radio ini.

Periode 1991-2003:
Kematian Samuel Marudut, Kontroversi Mega, hingga Kematian GMR

Periode 1990-an  menandai periode penting dalam industri budaya Tanah Air. Dalam era ini, serbuan kapitalisasi budaya mulai gencar setelah pemerintah Soeharto mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan industri budaya yang  lebih longgar bagi pemilik modal. Hal ini ditandai dengan mulai tayangnya televisi swasta, masuknya MTV ke Indonesia, bahkan major label internasional mulai menancapkan kukunya di Indonesia. Kedatangan Bill Clinton pada tahun 1994 yang menginginkan Indonesia membuka pasar musiknya bagi investasi asing menjadi salah satu momen penting akses musik barat menjadi mudah diterima di Indonesia.

Periode ini merupakan sebuah periode penting yang menandai perkembangan musik rock di Bandung. Setelah akses musik barat ke Indonesia menjadi mudah, GMR menjadi salah satu radio (atau malah media satu-satunya) yang menjadi referensi musik rock bagi anak muda Bandung. Mudahnya musik barat masuk ke Indonesia menjadi katarsis baru.

Program-program GMR

Pada era sebelumnya, misalnya tahun 1970-1980an, referensi musik barat “hanya” dimiliki oleh segelintir orang yang memiliki akses ke luar negeri. Dari media masyarakat hanya disuguhkan Album Minggu Kita-nya TVRI. GMR bagi saya menandai era penting bagi referensi musik rock yang saat itu benar-benar terbatas. Radio ini berani memutarkan album terbaru Metallica, Napalm Death, Carcass, Sepultura dalam program unggulannya.

Program seperti Kharisma Persada, 439942, Ring My Bell, Tembang Pribumi, Double R, Sunday Rock, Stone Program dan tentunya Sik Sik adalah beberapa program yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh para metalhead di Bandung. Salah satu hal yang biasa dilakukan anak muda untuk mendapatkan lagu-lagu metal pada masa itu adalah dengan merekamnya pada kaset kosong.

Acara Double R dan Sik Sik adalah dua acara yang notabene bagi saya cukup unik dan penting dalam memberikan edukasi musik. GMR memberikan pengetahuan pada kita betapa pentingnya memberikan integritas dan edukasi kepada musik yang kita cintai. Bukan hanya bersifat mendengar musik di radio sebagai leisure, akan tetapi menumbuhkan semacam kondisi mental yang apresiatif dan produktif -- Banyak band rock/metal di Bandung yang terbentuk setelah pendirinya terpengaruh saat mendengarkan musik rock di GMR.

Pada acara Double R, pendengar diharuskan untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan penyiar. Setiap jawaban yang benar akan mendapat poin. Poin-poin tersebut dikumpulkan setiap minggu untuk mendapatkan hadiah yang boleh dibilang tak seberapa untuk zaman sekarang, poster dan kaset. Pertanyaannya pun bukan sembarang pertanyaan. Tetapi menebak lagu yang diputar oleh penyiar. Kadang lagu yang diputar hanya bagian reff atau akhirnya saja, yang bisa membuat pendengar bingung. Ade Muir (bassis Pure Saturday) adalah salah satu orang yang sering menjadi pemenang kuis “Double R”.

Lain lagi dengan Sik Sik. Konsepnya adalah me-request lagu dan meminta tiga dukungan kepada pendengar lain agar lagu tersebut diputarkan. Uniknya, pendengar ketiga yang merequest lagu yang sama tersebut diharuskan menjawab pertanyaan seputar band yang di-requestnya,  bercerita fasih seputar band itu, dan menebak potongan lagunya. Semua proses berbelit itu hanya demi imbalan agar lagunya diputar --sebuah proses yang mustahil di zaman sekarang di mana mendengarkan musik semudah mendapatkan pisang goreng.Yang paling banyak lagunya diputar akan mendapat gelar “Sarjana Sik Sik”.

Promo band-band lokal

Perjalanan GMR semakin meluas sebagai satu-satunya radio rock di Indonesia. Tak hanya mengangkat musisi Bandung, banyak musisi-musisi rock di luar Bandung yang mempromosikan musiknya melalui GMR. Perannya semakin penting dalam menumbuhkan musik rock sebagai bagian penting dalam industri musik Indonesia yang era itu dibombardir oleh musik-musik alternatif seperti Nugie atau pop-nya Kla Project.

Rotor adalah band thrash metal pertama Indonesia yang merilis album dengan nama Behind the 8th Ball. Sebelumnya demo lagu itu sudah lebih dulu diputar di GMR. Kemudian debut album rock asal Bandung U’Camp, Bayangan, yang diproduseri oleh Ian Antono (gitaris Godbless) dan debut album Rudal, Slitting The World, juga sama-sama demo-demo album tersebut sebelumnya dipromosikan terlebih dahulu oleh GMR. Bahkan mulai dari jawara thrash metal asal Jakarta Sucker Head hingga jagoan-jagoan indie generasi awal macam Pas Band, Puppen, dan Pure Saturday adalah band-band yang “berhasil” dipromosikan oleh GMR.

Peran Samuel Marudut

Keberadaan awal karir Pas Band sebagai pendobrak sikap independen dan anti-kemapanan tentu tak bisa dilepaskan dari peran penting GMR. Pas Band melakukan pre-recording di GMR pada bulan September dan Oktober 1993, berkat campur tangan music director GMR, (alm) Samuel Marudut, dan hasilnya Pas Band merilis debut EP album 4 Through The Sap yang diyakini sebagai album independen pertama di Indonesia.

Awalnya Pas Band sempat frutrasi karena banyak ditolak label rekaman sebelum Samuel Marudut meyakinkan mereka untuk merilis album secara mandiri. Album ini pula yang memecut band-band indie untuk melakukan hal serup,a seperti pada Puppen dan Pure Saturday. Saking berpengaruhnya, 4 Through The Sap masuk ke dalam urutan 9 dari150 album berpengaruh versi Rolling Stone Indonesia.

Era tahun 1995-1996 adalah masa kejayaan musik underground. Masa itu band-band rock/metal mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan itu terlihat dari antusiasme demo band yang dikirim ke GMR. Untuk mengakalinya, GMR membuat acara Bedah Demo dan Demo Live at Studio yang juga merupakan bagian dari rangkaian peringatan acara ulang tahun ke-enam GMR. Acara Bedah Demo (Bedah Musik Tak Berdarah) berawal dari kepedulian GMR terhadap grup-grup band dengan jumlah cukup banyak yang belum sempat membuat demo atau kesulitan menyalurkan demonya. Dan hasil yang terkumpul sangat signifikan, yaitu 108 lagu dari 84 grup band yang diterima disiarkan langsung di GMR kemudian diulas dan dianalisis. GMR menetapkan the best five yaitu "Morsa", "Kid", "Jasad", "Alternative", dan "Cakra".

Demo Live at Studio menjadi tindak lanjut acara Bedah Demo. Selain mengirimkan demo tapenya, grup-grup musik tersebut mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya secara langsung dalam acara ini. Sebelas band metal terdaftar sebagai pengisi acara tersebut yaitu Cakra, Jasad, Kid, Sacreligious, Leppeace, Tympanic Membrance, Existensi, Fatal Death, Noise Damage, The Seconds, dan Fayes. Lima grup yang disebutkan pertama merupakan nominator utama dalam acara Bedah Demo.

Tahun 1996 merupakan tahun dimana band-band lokal mulai memperlihatkan eksistensinya dalam komunitas musik di Bandung. Ekspresi komunitas musik semakin terlihat dengan banyaknya rilisan yang menandai komunitas musik underground kian menggeliat. Band-band metal lokal macam Jasad, Sacrilegious, Noise Damage, Rotten To The Core, Closeminded, Insulin Coma, Koil, Hellburger, Sonic Torment, Piece Of Cake, Pimple adalah  contoh dari band-band indie yang berhasil merilis album.

Selain dari Bandung, Tengkorak dari Jakarta, Rotten Corpse dari Malang dan Slow Death dari Surabaya adalah band underground yang dipromosikan oleh GMR. Era itu merupakan era dimana komunitas indie di Bandung sangat beragam keberadaannya dan hanya GMR yang bisa memutarkan lagu-lagu mereka.

Perjalanan emas GMR dalam menorehkan tinta emas ke dalam semangat zaman musik rock di Indonesia pada dekade 1990-an bukan berarti dicapai tanpa ada jalan terjal. Tanggal 27 Maret 1993, bertepatan dengan Bulan Ramadhan, pendiri sekaligus pemilik GMR, Erwin Sitompul tutup usia. Untuk meneruskan perjalanan GMR, akhirnya istrinya, Ida Sitompul, menggantikan posisi suaminya sebagai direktur.

Pada tanggal 15 Oktober 1994 Samuel Marudut menghembuskan nafas terakhir di kediaman Krisna 'Sucker Head' di daerah Kalibata Jakarta. Ia kemudian dimakamkan di Pemakaman Kristen Pandu Bandung. Ironisnya, Samuel Marudut meninggal ketika sedang mendengarkan lagu “The End” milik The Doors. Itu mengingatkan kita pada satu hal, Samuel Marudut meninggal dunia di usia yang relatif muda, 24 tahun mengingatkan kita akan sosok Jim Morrison – vokalis The Doors, Jim Morrison meninggal di usia 27 tahun.

Nama besar GMR juga sempat tercoreng di mata komunitas punk di Bandung. Kejadian ini bermula dari seorang penyiar GMR yang mencibir musik punk. Ceritanya ada seorang pendengar yang meminta lagu Runtah (nama salah satu band punk asal Bandung), namun penyiar yang bernama Mega itu justru tidak memutarkan request lagu Runtah dan malah mencibir musik Punk sebagai musik sampah. Kejadian ini sempat menjadi kontroversi di kalangan komunitas underground Bandung.

Untuk menentang penyiar radio GMR yang fasis, kemarahan Runtah diteriakkan dalam lirik lagu “Mega” dalam album Punx’N’Skins:

“Modar sia anjing/ Aya hiji penyiar anu ngaranna Mega/ Penyiar GMR / Anu ngaranna Mega / si eta tai pisan/ Anu ngaranna Mega/ Si eta eweuh kanyaho/ Anu ngaranna Mega/ Mega.. Mega… Mega… / Mega anjing .. Mega.. Mega…. Mega… modar sia goblog/ Mega… Mega… Modar siah tai/ Eta penyiar goblog/ Anu ngaranna Mega/ Eta penyiar tai/ Anu ngaranna mega/ Goblog eweuh kanyaho/ Anu ngaranna mega/ Wani gelut jeung aing/ Anu ngaranna mega/ Mega.. Mega… Mega… modar sia anjing/ Modar sia goblog/ Modar siah tai//” (Mati sia anjing/ ada satu penyiar bernama Mega/ penyiar GMR/ yang bernama Mega/ dia tai banget/ yang namanya Mega/ dia gak punya pengetahuan/ yang namanya Mega/ Mega.. Mega… Mega… / Mega anjing… Mega.. Mega.. Mega.. Mega.. Mati lu goblog/ Mega.. Mega… Mega… Mati lu tai/ Dia penyiar goblog/ yang namanya Mega/ dia penyiar tai/ yang namanya Mega/ goblog gak punya pengetahuan/ yang namanya Mega/ berani berantem ama gue/ yang namanya Mega/ Mega… mega.. Mega.. mati lua anjing/ mati lu goblog/ mati lu tai/)

Bagi saya ekspresi kemarahan Runtah adalah sebuah gairah atau kesadaran kolektif tentang betapa pentingnya integritas dan edukasi dalam musik bagi individu yang menyukai musik.
Saking berpengaruhnya GMR masa itu, ekspresi musikal bisa terlahir dari kekecewaan yang berubah menjadi potensi kreativitas yang tinggi.

Kejadian tragis juga sempat mewarnai perjalanan GMR ketika tower pemancar mereka jatuh akibat hujan deras disertai angin kencang hingga menimpa salah satu rumah di kawasan Cipaganti. Selama satu bulan GMR tidak mengudara dikarenakan adanya perbaikan dan pergantian tower pemancar.
Waktu itu beredar gosip bahwa hal itu adalah kutukan tuhan – Maklum musik metal yang diputar oleh GMR dianggap ‘musik setan’. Ketika sebuah majalah muslim menulis Pure Saturday sebagai pemuja setan, karena singkatan “PS” yang diartikan sebagai “Pemuja Setan”.

Akhir riwayat GMR

Menjelang awal milenium GMR mengalami banyak dinamika. Mulai dari keluarnya penyiar-penyiar mereka hingga manajemen yang beralih dari Ida Sitompul ke Gunung Sewu Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi, pendidikan, dan ekspor-impor pisang ini mulai mengambil alih. Peralihan manajemen ini dianggap sebagai awal pemicu kemunduran GMR. Dari tahun 1997 hingga 2000 format musik GMR berubah 70%, dari rock station ke classic rock, di mana lagu-lagu yang diputar dari era tahun 60an hingga 80an. Sementara, metal dan extreme metal ditiadakan karena permintaan dari manajemen baru.

Pergantian format musik menjadi classic rock membuat GMR kehilangan banyak pendengar. Ketika berformat musik rock pada awal 1990 sampai 1997, pendengar GMR mencapai 180 ribu, akan tetapi ketika beralih menjadi classic rock penyusutan pendengar menjadi drastis, dengan hanya 20 ribu pendengar. Tiga tahun berada di format classic rock, tepat Juli 2000 format GMR beralih kembali ke rock station. GMR kembali memutarkan metal.

Tiga tahun bertahan dengan format rock station, 11 September 2003 GMR harus berakhir dikarenakan Gunung Sewu Group memindahkan manajemen-nya ke Femina Group yang mengharuskan format beralih ke female station dan nama radio pun berubah menjadi U FM.

GMR adalah semangat zaman yang tak boleh dilupakan ketika berbicara musik rock/metal di Indonesia. Dari hiruk pikuk, jatuh-bangun, GMR dibangun dari semangat idealisme, fanatisme, dan kecintaan pada musik rock itu sendiri. Para penyiar yang dibangun dengan idealisme dan fanatisme yang sinergis dengan para pendengar yang fanatis itu sendiri (ingat kasus band Runtah di atas).

GMR kini sudah tiada. Akses terhadap industri radio bagi para musisi rock teru tama yang berada di ranah musik metal/death metal adalah hal yang utopis. Kurang lebih sebulan yang lalu, genap awal September, sebuah program musik rock di sebuah radio ternama di Indonesia yang digawangi kawan saya dari band Rocket Rockers dan Alone At Last resmi ditutup dan hanya menerima relay dari Jakarta saja.

Ini menambah daftar kelam program-program musik rock yang kian tenggelam. Ini juga menjadi cerminan ketika hampir empat tahun lalu saat saya mengurus program musik rock, selalu bertabrakan dengan pihak manajemen. Rasanya, membuat radio rock (atau minimal program musik rock) haruslah dibangun dari semangat fanatisme musik yang tinggi, bukan dari persoalan cocok-mencocokkan harga – seperti pemilik GMR Erwin Sitompul yang rela berkorban demi GMR yang bermula dibikin sebatas hobi semata.

Saya sebenarnya berharap banyak akan keberadaan radio-radio streaming dan podcast yang mulai bermunculan sebagai alternatif dari keberadaan industri radio. Ini bisa menjadi semangat zaman baru. Agar musik rock berjaya di udara, dan tak lantas tenggelam. Saya melihatnya seperti Phillip Seymour Hoffman dalam film The Boat That Rocked, sebuah metafora agar memiliki integritas dan fanatisme yang tinggi terhadap musik rock, sambil berteriak lantang dan mengepalkan tangan: “Rock’N’Roll!”

Saya akan menutup tulisan ini dengan "Tips Mendengar Radio" yang diambil dari buletin GMR Generaxi edisi 2 di tahun 1996:

Pilihlah stasiun radio yang kamu sukai.. Jangan yang kamu benci. Kalo nggak mau, ya nggak usah!”(SELESAI).

Link ke tulisan Idhar Resmadi, "Radio GMR Bandung bagian 1": http://www.jakartabeat.net/musik/388-radio-gmr-bandung.html
Link ke tulisan Samack, "Radio Senaputra Malang": http://www.jakartabeat.net/musik/386-radio-rock-senaputra-kota-malang.html

Idhar Resmadi adalah mantan pemimpin Redaksi Ripple Magazine dan sempat menjadi jurnalis di Trax Magazine. Pernah menerbitkan satu buah buku Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008). Kini bekerja sebagai editor di yayasan non-pemerintah Common Room Networks Foundation yang berfokus pada pengembangan seni, teknologi, dan budaya. Selain itu ia juga bekerja sebagai jurnalis yang menyoroti persoalan seni, sosial, dan pendidikan di Kolom Kampus Harian Pikiran Rakyat Bandung. Ia tengah berusaha keras menyelesaikan studinya di Jurnalistik FIKOM Unpad melalui skrips yang bertopik industri budaya di era digital.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar